Dua Putaran Pemilihan Presiden, Survei LRI Dipertanyakan

Lembaga Riset Informasi
Pengamat Politik Universitas Paramadina, Bima Arya Sugiarto mempertanyakan hasil survei Lembaga Riset Informasi. Menurut dia, kredibiltas hasil survei oleh lembaga survei itu ada empat faktor yang mempengaruhi, yaitu sumber dana, kesesuaian pengambilan sampel dengan data BPS, kualitas metodologi, dan rekam jejak lembaga pembuat survei.
“Kami mengkhawatirkan empat faktor ini ada yang tidak terpenuhi,” kata Bima dalam jumpa pers hasil survei calon presiden oleh Lembaga ini di Restoran Gado-Gado Boplo, Minggu (7/6).
Dalam pemaparan itu, Bima menemukan ada catatan dalam hasil itu. Dia mencontohkan, penggambilan sampel tidak sesuai dengan data Badan Pusat Statistik. Dalam demografi, LRI menggunakan prosentase masyarakat desa 50 persen, sedangkan BPS 59 persen. Berdasarkan pendidikan, LRI menggunakan prosentase SD 31 persen dan SMP 20 persen, sedangkan BPS pendidikan SD 60 persen dan SMP 6 persen. Termasuk penggunaan pertanyaan terbuka atau tertutup. “Ini bisa memperngaruhi hasil,” ujarnya.
Direktur Lembaga Riset Informasi, Johan O. Silalahi menyatakan dana yang digunakan oleh Lembaga Riset Indonesia dari para donatur. Namun, kata dia, tidak berkaitan dengan calon presiden maupun calon wakil presiden tertentu, bahkan dari partai politik yang bersangkutan. “Saya siap dituntut jika ada sumbangan dari mereka,” katanya.
Dalam paparannya, LRI menemukan SBY-Boediono dengan 33,02 persen, Jusuf Kalla-Wiranto 29,29 persen dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo 20,09 persen dengan pemilih yang belum menentukan suaranya 17,56 persen. Penelitian dilakukan dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur di 33 provinsi dengan metode sampling multi-stage cluster. Jumlah responden 2.096 orang berusia 17 tahun dan telah m!enikah. Menggunakan margin of error 2,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Meningkatnya elektabilitas JK-Wiranto, kata Johan, karena limpahan suara dari partai pendukung SBY-Boediono yang justru pernyataan tim suksesnya blunder bagi para pendukungnya. Seperti, masalah pemilihan calon wakil presiden Boediono dan pernyataan anggota tim sukses SBY-Boediono, Ruhut Sitompul berkaitan sara. “Otomatis, mereka akan lebih bersimpati ke JK-Win,” ujarnya.
Pengamat Politik Universitas Indonesia, Effendy Ghazali mengatakan elektabilias ketiga calon masih mungkin berubah. Hal ini, kata dia, belum maksimalnya para calon itu beriklan dan berkampanye. “Masih banyak materi iklan yang belum menyentuh semua pihak,” katanya. “Masih mungkin berubah.”
Sumber : EKO ARI WIBOWO tempointeraktif
Harusnya yang dipertanyakan pak bima adalah hasil LSI yang sangat kelihatan sekali tidak independenya.
Bagi lembaga survey yang bohong atau menuruti kehendak si pemesan akan saya katakan bodoh sekali. Sebab, bukti akan menyatakan bahwa mereka nantinya akan tersisihkan dari reset-reset lainnya dan tidak akan laku. Dengan demikian mereka meyalahi tata cara reset dan perlu mendapatkan sangsi dari persatuan peneliti..
Pernyataan tentang dana Itu bohong sekali jika LRI tidak ada permintaan dari parpol tertentu dan biaya dari donator ??????? Mustahil
Ingat membangun opini dengan memanipulasi data akan menjatuhkan parpol dan lembaga survey itu sendiri.
Survey politik bila digunakan secara positif akan dapat meningkatkan kredibilitas parpol itu sendiri bila tidak akan terjadi sebaliknya.
Rakyat sudak tau trik-trik semacam itu akan tetapi jangan disama ratakan dengan survey permintaan agar bisa menggolkan projek pembangunan. Anda selanjutnya akan tidak laku lagi.nantinya
Semoga menjadikan perhatian dan jadikanlah komentar saya ini merupakan kritik membangun
Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Tapi kalau mau adil seharusnya LSI juga dipertanyakan hasil surveinya itu. Jangan hanya LRI saja tapi LSI juga harus memaparkannya dengan jelas segala metode, sampel,sumber dana hingga siapa yg berada dibelakangnya.
Karena banyak kalangan yang tidak setuju dengan hasil survei LSI yang menurut banyak kalangan tidak realistis dan up to date. Jika hasil suatu survei banyak yang tidak setuju, maka patut pula dipertanyakan validitas dan kredibilitasnya.
Survei Is The Survei But No.1 Is The BEST TO VOTE
gak ada pengaruh mau satu putaran, dua putaran kek, mau siapa yang unggul menurut survey…rakyat mah adem ayem saja. yng riweuh mah tetep para elite hehehe
Orang Indonesia koq pada panik n sewot yah klo ada hasil survey yang menunjukkan SBY-Budiono turun.
Lihat nih aku- Wong Ndeso- tetep seneng (bungah) klo ngliat hasil survey SBY-Budiono hasilnya turun.
Lihat nih aku- Wong Ndeso- tetep seneng (bungah) klo ngliat hasil survey Mega-Pro hasilnya naik.
Lihat nih aku- Wong Ndeso- tetep seneng (bungah) klo 2009-2014 Presiden RI Megawati dan Wapres RI Prabowo.
basi banget kalo LRI gak ditunggangi kepentingan.
asal tau aje, dikampus gw kebanyakan orang2nya gak kepengaruh suvei tu!! mereka (termasuk gw) bukan orang yang gampang dikibulin, gw liat kebanyakan bahkamn 99% semua yang ngomongin pilpres masih teguh sama SBY, apalagi tambah Budiono, tambah klop n cerdas bwt ngedidik indonesia lebih maju!
bwt JK kita2 gak banget!!!
sedikit kerja maunya keliatan, ada jelek dikit dilempar ke orang lain,pengennya jadi yang paling bener. emangnya dia itu siapa…?? nabi???
perasaan gak ada dech pemimpin yang cuma bisanya mikir instan, segala hal butuh rasional apalagi urusan negara yang menyangkut rakyat banyak dan sepanjang hayat, beda dong sama pengambilan keputusan di perusahaan milik sendiri. kalo perusahaan berani aje ambil resiko, toh kalo bangkrut bisa dijual…..WEK!!!!
Pada Akhirnya Kemenangan Pada Orang - Orang Yang Berbuat Benar.
Bukan Yang Tidak Benar Di Benar - Benarin. Pilihan Ditanggan Anda
Untuk Memilih Yang Terbaik Demi Kemajuan Bangsa Dan Negara NKRI.
semakin banyak para calon pemimpin berbicara mengenai kerakyatan, anti liberalis, menklaim keberhasilan dengan menjtuhkan image lawan, maka akan semakin antipati rakyat kepada mereka. Karenanya saya sarankan calon presiden untuk puasa bicara selama masa kampanye. Biarlah sebagian besar masyarakat juga dah tahu ga perlu dikasih tahu lagi dari pada salah2 bicara tambah agah tuk milih mereka