Tren Perolehan Suara SBY Terus Merosot

SBY - Boediono
Perolehan suara pasangan SBY-Boediono terus-menerus merosot.
Perolehan suara pasangan SBY-Boediono terus-menerus merosot, Senin 22 Juni 2009. Sementara, suara Jusuf Kalla-Wiranto perlahan namun pasti terus terkatrol naik.
Demikian hasil berbagai lembaga riset sebulan terakhir. Menurut hasil survei Lembaga Survei Indonesia akhir Mei lalu, suara pasangan SBY-Boediono masih dipilih 70 persen responden. Sementara pasangan Mega-Prabowo dipilih 18 persen. Dan pasangan JK-Wiranto hanya dipilih 7 persen responden.
Namun pada awal Juni, perolehan suara SBY-Boediono mulai merosot. Dari data riset LP3ES, pasangan SBY-Boediono hanya dipilih 54,9 persen. Sementara pasangan Megawati-Prabowo 9,7 persen dan pasangan JK-Wiranto 6,8 persen.
Tren penurunan suara pasangan SBY-Boediono dan naiknya suara pasangan JK-Wiranto juga ditemukan Lembaga Survei Nasional (LSN) awal Juni ini. Memang, dari perolehan data, pasangan SBY-Boediono tetap moncer di peringkat pertama dengan perolehan 62 persen, sementara pasangan Megawati-Prabowo 14 persen dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto 11 persen.
Namun saat riset dilakukan LSN tanggal 15-20 Mei, suara perolehan SBY-Boediono lebih tinggi dengan perolehan 67,1 persen. Sementara pasangan Mega-Prabowo hanya 11,8 persen dan pasangan JK-Wiranto cuma 6 persen.
Tren penurunan suara SBY-Boediono juga ditemukan oleh Lingkaran Survei Indonesia. Menurut Lingkaran Survei, pasangan SBY-Boediono tak mencapai 70 persen suara, namun hanya 59,5 persen. Sementara pasangan Mega-Prabowo 18,3 persen dan pasangan JK-Wiranto 6,3 persen.
Gambar yang menunjukkan penurunan suara SBY-Boediono juga tercermin dalam hasil riset Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskpatis) terakhir. Temuan survei lembaga ini mendapati pasangan SBY-Boediono memperoleh 52,15 persen, Mega-Prabowo 22,17 persen, dan pasangan JK-Wiranto 17,20 persen.
Hasil itu memperlihatkan penurunan suara SBY-Boediono dibandingkan perolehan suara pasangan itu pada tanggal 11-17 Mei 2009. Pada saat itu, Puskpatis menemukan pasangan SBY-Boediono masih dipilih 57,39 persen, sedangkan Mega-Prabowo 24,26 persen dan JK-Wiranto 12,37 persen.
Sumber : Edy Haryadi edy.haryadi@vivanews.com
• VIVAnews
Bisa dimaklumi, klo trend perolehan sby merosot, karena:
1. Tidak menyampaikan apa kekurangan kepemimpinannya, kata lainnya: karena ngotot pingin jadi presiden lagi jadinya ketidakjujuran juga dihalalkan.
2. Tidak mengakui kalo sby-budiono itu amerikaisme, kata lainnya: karena ngotot pingin jadi presiden lagi jadinya ketidakjujuran juga dihalalkan.
3. Setelah iklan mie instant banyak dikritik karena tidak bermutu, sekarang iklan yang ditampilkan mengambil tema capres-cawapres lain, sementara iklan capres-cawapres lain yang sebelumnya dilarang muncul adalah iklan yang mirip iklan sby-budiono sekarang (petani, nelayan, dll). kata lainnya: karena ngotot pingin jadi presiden lagi jadinya menjiplak ide juga dihalalkan.
4. Setelah banyak disampaikan kekurangan sby dulu dalam mengatasi konflik (aceh, ambon), sby tidak membantah itu semua (berarti IYA, berarti itu FAKTA), eee…. sekarang pasang iklan besar2an tentang keberhasilannya. kata lainnya: karena ngotot pingin jadi presiden lagi jadinya keberhasilan yang dikerjakan bawahannya diakui sebagai keberhasilan pribadi, alias tidak mengenal terima kasih kepada kru-krunya juga dihalalkan.
5. Karena secara hitung2an pasti kalah kalo pilpres 2 putaran, maka dengan dalih ngirit pilpres harus 1 putaran. dengan kata lain pelit-mbethithil: lha wong duitnya rakyat rakyat maunya pesta demokrasi pilpres 2 putaran koq memaksa 1 putaran, alias: panik akan gagal jadi tidak demokratis.
Syukurlah kalau popularitas sby turun rakyat sudah pintar tidak bisa di kelabui dengan kata2 manis tapi tak terbukti
Bagaimanapun masih tetap satu putaran kan, lanjutkan mari kita sukseskan satu kali putaran.
sby sekali lagi hanya pencitraan saja yg menang.
Ntar kalo sby gak menang jadi artis aja
buat wawan.. duit rakyat ya duit rakyat… kalo 2 putaran emang nya bakal balik ke rakyat?? ya ke tukang sablon, perusahaan iklan, pabrik kertas yang untung… semua analisa lo bernada sirik ama SBY… !! kaga mutu!!!
Buat anda yang memilih satu putaran, jangan anda melihat dari sudut pandang sisi ekonominya saja..memang mungkin dengan satu putaran kesannya biaya yang dikeluarkan dapat lebih hemat daripada 2 putaran dan konsumsi waktu dapat menjadi lebih efisien. Tp harap diingat..1 putaran yang didengung2kan oleh Tim sukses SBY itu berkesan sangat dipaksakan sekali bahkan sudah dikategorikan sebagai black campaign yang mencoba mengiring rakyat untuk memilih pasangan tertentu saja (tolong wawasannya dibuka sedikit, jng tertutup karena fanatisme semata). Kita dalam pemilu ini benar2 harus memilih seorang calon presiden yang benar2 mewakili sebagian besar rakyat Indonesia . Harap diingat Partai Demokrat dapat menjadi pemenang bukan karena sebagian besar rakyat Indonesia mendukung Partai Demokrat, karena saat pileg kemarin suara Golput hampir mendekati 40 %. Jd kalau dibandingkan suara yang diperoleh Partai Demokrat dalam pileg kemarin..hanya setengah dari suara rakyat yg GOLPUT. Jd kalo ada wacana yg memaksakan untuk satu putaran, dapat kita bayangkan tingkat kejujuran dan keadilan dari pemilu yang dapat kita pertanyakan..bahkan bukan tidak mungkin cost atau jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memaksakan satu putaran ini dapat jauh lebih tinggi dari pada penyelenggaraan 2 putaran. dan saya ragu Capres dari koalisi Demokrat ini dapat meraup suara2 yang notebene ada dikantung2 suara pasangan yang lain..(ini jelas suatu kesombongan yg tidak berakhlak). Disini kita belajar berdemokrasi yang baik dan berakhlak, jd jangan mencederai demokrasi itu dengan kesombongan dan pemaksaan kehendak pribadi atau golongan tertentu yang justru kesannya mendiskreditkan calon pasangan yang lain. Jd tolong lihat substansi secara objektif, bukan berarti 2 putaran itu tidak baik…tetapi selama kita menghendaki seorang pemimpin yang benar2 amanah dan dipercaya oleh rakyat Indonesia, 2 putaran adalah hal yang paling objektif untuk mencapainya. HIDUP RAKYAT INDONESIA
jangan sok merasa benar dan fanatik ke salah satu capres, karena capres sekarang banyak ga benernya, saling sindir dan saling buka borok orang.
mending lihat actual aja, capres mana yang dah beri bukti.
ga usah ngotot, walaupun ngotot tetep kuli mah kuli ga bakal diangkat jadi menteri-nya.
coba tresbek ke masa lalu : orde baru yang katanya banyak korupsi, masih lebih sedikit daripada masa-masa sesudahnya, dengan kata lain, masa setelah orde baru adalah masa balas dendam orang yang ga bisa KKN. walau udah disumpah pakai kitab tetep aja sialu ma kuasa&duit.
makanya sekarang klo loe pada mo milih, pilih aja sesuai pilihan loe sendir ga usah mencela, ga usah menghasut ga usah buka borok orang (kaya capres kita sekarang).
klo loe pada masih pada ngotot, artinya loe pasti dah dibayar untuk ngotot….
tul ga…………………
capres kita udah mulai gak PEDE,mengkambing hitamkan DPT
HIDUP KPU…jangan takut ama PESERTA (capres)
gua sudah terbius sama pesona sby. Orang yang sudah terpesona tidak akan dapat berpikir normal ( alias abnormal ) karena hanya perasaan yang dominan. jadi yang bego kaya gua yang sudah sama2 terpesona sama sby.
SBY kalau kamu kalah tolong pulang ke kapung halaman mu kerjakan saja sawah ladang mu yang masih kering