Rekapitulasi Hasil Pilkada Gresik Diumumkan dengan Penjagaan Ketat
Rekapitulasi suara hasil Pilkada Gresik, Jawa Timur pada 26 Mei lalu akan diumumkan KPU setempat pada Selasa (1/6) dengan penjagaan ketat oleh aparat kepolisian.
“Pihak kemanan akan menjaga ketat. Tidak sembarang orang boleh masuk. KPU akan mengeluarkan ID card resmi yang dibagikan secara khusus dan hanya orang-orang yang berkepentingan yang bisa masuk di ruang penghitungan,” kata anggota KPU Gresik, M Faizin, Senin.
Pengetatan itu dilakukan KPU karena pihaknya tidak ingin penghitungan manual tersebut ada persoalan yang tidak dikehendaki bersama terkait kabar demonstrasi besar-besaran saat penghitungan.
“Kabar yang kami terima memang akan ada aksi besar-besaran, tapi kami sudah melakukan koordinasi dengan polisi. Aparat meminta agar kami tetap melakukan perhitungan manual di kantor KPU dan bukan di lokasi lain,” katanya.
Penghitungan tersebut tidak bisa ditunda dan harus sesuai jadwal karena perhitungan manual tingkat PPK di 18 kecamatan sudah tuntas, bahkan semua berkas sudah dikirim ke KPU.
Namun, KPU tetap melakukan perhitungan sesuai dengan jadwal pada 1 Juni 2010 malam hari, sehingga tidak ada perubahan berdasarkan isu yang beredar.
Terkait dengan perolehan suara, M Faizin mengaku tidak beda jauh dengan hasil “real count” yang dilakukan KPU, bahkan terjadi kenaikan masing-masing pasangan dalam perolehan suaranya di tingkat PPK.
Perolehan suara pasangan Bani (Bambang-Qonik) di Kecamatan Bungah naik dari 1.556 menjadi 1.939, di Duduksampean naik dari 2.737 menjadi 3.193, di Menganti dari 13.985 menjadi 14.027 dan Kedamean dari 5.107 menjadi 5.450.
“Dari perolehan total 92.788 naik menjadi 94.012, namun persentase justru turun dari 16.25 persen menjadi 15.99 persen,” katanya.
Pasangan JiWa (Mujitabah-Suwarno) di Kecamatan Bungah naik dari 113 menjadi 175, di Kecamatan Duduksampean naik dari 122 menjadi 195, di Menganti naik dari 2.119 menjadi 2.132, dan Kedamean naik dari 500 menjadi 533.
“Total perolehan suara juga naik dari 7.360 menjadi 7.541 dengan nilai persentase turun dari 1.29 persen menjadi 1.28 persen,” katanya.
Sementara itu, pasangan urut tiga SQ (Sambari-Qosim) juga mengalami hal yang sama. Di Kecamatan Bungah naik dari 9.637 menjadi 14.787, di Duduksampean dari 8.338 menjadi 10.876, di Menganti dari 17.656 menjadi 17.705 dan Kedamean dari 8.806 menjadi 9.210.
“Dengan jumlah perolehan suara 198.677 naik menjadi 206.818 dengan nilai persentase naik dari 34.80 persen menjadi 35.17 persen,” katanya.
Sementara pasangan Mohammad Nashihan-Syamsul di Kecamatan Bungah naik dari 458 menjadi 610, di Duduksampean dari 271 menjadi 280, di Menganti dari 1.490 menjadi 1.493 dan Kedamean dari 861 menjadi 1.198.
“Total perolehan suara dari 25.649 naik menjadi 26.150 dengan persentase turun dari 4.49 persen turun menjadi 4.45 persen,” katanya.
Untuk pasangan Humas (Husnul Khuluq-Musyafa’ Noper) juga mengalami kenaikan suara signifikan di Kecamatan Bungah dari 12.124 menjadi 16.211, sedang di Duduksampean dari 10.582 menjadi 11.930, di Menganti dari 20.268 menjadi 20.404, dan Kedamean dari 15.380 menjadi 16.775.
“Total perolehan suara naik dari 224.456 menjadi 231.422 dengan persentase naik dari 39.32 persen menjadi 39.35 persen,” katanya.
Pasangan terakhir adalah S2BY (Satro Suwito-Samwil) di Kecamatan Bungah naik dari 243 menjadi 343, di Duduksampean naik dari 150 menjadi 209, di Menganti naik dari 991 menjadi 993 dan Kedamean naik dari 330 menjadi 367.
“Total perolehan suara naik dari 21.949 menjadi 22.147, namun persentase perolehan menurun dari 3.84 persen menjadi 3.77 persen,” katanya.
Terkait kabar yang beredar bahwa ribuan orang akan memprotes hasil penghitungan suara karena diduga terjadi penggelembungan suara sehingga memenangkan pasangan Husnul Khuluq-Musyaffa’ Noer (Humas) itu dibantah sejumlah anggota Tim sukses masing-masing calon.
“Kami legowo. Dalam pertarungan pilkada ada kalah dan ada menang adalah hal yang lumrah. Kami tidak akan melakukan mobilisasi massa,” kata Agus, salah satu anggota Tim Sukses Pemenangan Bambang Suhartono-Abdullah Qonik (Bani).
Hal senada diungkap Nurdin Saini dari Tim Pemenangan Sambari Halim Radianto-M Qosim (SQ). “Kami tidak tahu tentang hal itu, karena kami berada di Nganjuk, sehingga tidak tahu apa-apa,” kata mantan Direktur Utama PDAM Gresik itu.
Sumber : antarajatim.com