Pengamat: Rakyat Mulai Apatis terhadap Pilkada

Pengamat politik Surabaya Prof Kacung Marijan menilai tingginya angka golput (golongan putih atau tidak memilih) pilkada di sejumlah daerah akhir-akhir ini menunjukkan rakyat mulai apatis.

“Apatisme rakyat terhadap pilkada itu menunjukkan apatisme rakyat terhadap parpol dan pemerintah, karena parpol yang mengawal proses pilkada dan pemerintahan baru adalah hasil pilkada,” katanya kepada ANTARA di Surabaya, Minggu.

Guru Besar Ilmu Politik Unair Surabaya itu mengemukakan hal itu terkait peningkatan angka golput dalam sejumlah pilkada dengan kisaran 28 hingga 40 persen, bahkan ada yang lebih dari itu dan angka golput pun mampu “memenangkan” pilkada.

Menurut dia, apatisme terhadap pilkada, parpol, dan pemerintah itu merupakan tamparan serius kepada parpol dan pemerintah untuk menunjukkan keseriusan dalam memperjuangkan nasib masyarakat.

“Apatisme rakyat membuktikan pandangan masyarakat bahwa parpol dan pemerintah tidak serius dalam memihak kepada rakyat, sehingga kepercayaan rakyat kepada parpol dan pemerintahan itu ditunjukkan dengan peningkatan angka golput,” kata alumnus Australian National University (ANU) itu.

Dosen Pascasarjana Unair Surabaya itu menyatakan solusi untuk meningkatkan kepercayaan rakyat hanya satu yakni parpol dan pemerintah harus lebih serius memikirkan nasib rakyat.

“Kalau parpol masih suka berkelahi atau pemerintah masih suka mengobral janji dalam kampanye pilkada, maka angka golput akan semakin meningkat. Pilkada jangan dijadikan obral janji tentang pendidikan atau kesehatan gratis, tapi realisasinya sulit dan nihil,” katanya.

Salah seorang Ketua PBNU 2010-2015 itu mengatakan NU sendiri dalam Muktamar Makassar telah mengusulkan kepada pemerintah untuk mengurangi pemilihan langsung (pilkada) dengan meniadakan pilgub, karena gubernur sebaiknya memosisikan sebagai “wakil” pemerintah pusat.

Sebelumnya, Direktur Pusat Studi Demokrasi dan HAM (PuSDeHAM) Muhammad Asfar menilai golput akhir-akhir ini bukan hanya didominasi kalangan menengah ke atas, namun sudah melanda kalangan menengah ke bawah.

Sumber : antarajatim.com

One Response to Pengamat: Rakyat Mulai Apatis terhadap Pilkada

  1. trijono hardjono August 21, 2010 at 2:05 am

    Hidup Golput Indonesia ….
    Inilah fakta, ketidak-percayaan rakyat terbesar terhadap format dan sistem politik yang ditawarkan oleh elite. Pemilihan itu bermuara pada dua hal, pertama pada trusty dan kedua pada adanya espektasi. Karenanya saya sepakat, perlunya ada perubahan pada format dan sistem politik yang ditawarkan. Sebab, apatisme yang kronis, akan menggejala menjadi fatalisme. Kira kira apa yang akan terjadi nantinya ..?

    Indonesia harus bangkit, dan hal itu dapat dimulai dengan merefiew konsep politik dan pemerintahannya. Bahwa benar, bangunan dasarnya adalah sistem ekonomi, namun sistem ekonomi dapat diredesign oleh sistem politik dan pemerintahan yang baru.

    Kami telah menstimulasi, dengan melakukan yudisial review ke MK, atas pasal pasal undang undang pilkada langsung, khususnya pada pasal 56, UU 32 Tahun 2004. Perspektif kami, pasal pasal pilkada langsung tidak memiliki konstitusionalitas. Namun demikian, perlu juga diwaspadai, praktek politik ‘tertutup’ pada pemilihan kada oleh DPRD.

    Secara susbtansial, pemilihan umum harus berdimensikan adanya selection proses, bukan hanya pada election prosesnya saja.

    Kami tunggu di perempatan sejarah di depan.
    Salam, SEKBER GOLPUT INDONESIA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone