PKS dan Demokrat Terpuruk
JAKARTA - Partai Demokrat dan PKS harus berjuang lebih keras untuk mengembalikan kepercayaan publik jelang Pemilu 2014. Riset terbaru Lembaga Survei Nasional (LSN) mengungkap, dua parpol itu masih harus puas di peringkat paling buncit dalam deretan partai peserta Pemilu 2014 yang dianggap masyarakat bersih.
Sesuai dengan hasil survei lembaga tersebut, Demokrat dan PKS sama-sama hanya dipercaya 0,6 persen publik bahwa mereka masih merupakan partai bersih. “Isu korupsi yang langsung mengarah pada masing-masing pimpinan partai keduanya bisa jadi merupakan alasan publik,” kata peneliti LSN Dipa Pradipta saat memaparkan hasil survei lembaganya di Hotel Graha Menteng, Jakarta, kemarin (16/7).
Berturut-turut partai yang dipersepsikan paling bersih oleh publik dalam survei adalah Partai Hanura (11,1 persen), Partai Gerindra (11,1 persen), PPP (7,5 persen), PDI Perjuangan (6,4 persen), Partai Golkar (5,6 persen), PKB (5,1 persen), PAN (5,1 persen), Partai Nasdem (3,7 persen), PBB (2,2 persen), dan PKPI (2,2 persen). Sebanyak 38,8 persen responden menyatakan tidak tahu/tidak menjawab.
Menurut Dipa, persepsi publik terhadap partai-partai peserta pemilu tersebut berpengaruh terhadap elektabilitas partai yang bersangkutan. Meskipun, papar dia, hal itu bukan satu-satunya faktor penentu. “Faktor korupsi jelas sangat memengaruhi (elektabilitas), terutama pada PKS. Sedangkan Demokrat agak diuntungkan karena diredam isu korupsi PKS yang masif belakangan ini,” ucapnya.
Hasil riset LSN juga mengungkap elektabilitas partai-partai terkini. Seandainya pemilu dilaksanakan sekarang, Partai Golkar dan PDIP masih bersaing ketat di urutan teratas. Masing-masing memiliki tingkat keterpilihan 19,7 persen dan 18,3 persen.
Partai Gerindra menempati posisi ketiga dengan tingkat keterpilihan 13,9 persen. Baru kemudian berturut-turut Partai Hanura (6,9 persen), Demokrat (6,1 persen), PKB (4,8 persen), Partai Nasdem (4,6 persen), PPP (4,3 persen), Partai Amanat Nasional (3,8 persen), dan PKS (3,8 persen). Selanjutnya PBB (1,4 persen) dan PKPI (0,5 persen). Adapun yang belum memilih partai mana pun sebanyak 11,9 persen.
Dipa menilai, salah satu faktor yang membuat Golkar masih bertahan di peringkat atas adalah iklan yang masif, baik iklan partai maupun iklan figur ketua umumnya. “ARB (Aburizal Bakrie, Red) dan partainya secara masif memaparkan iklan politik terus-menerus. Jadi, itu juga menimbulkan elektabilitas yang cukup tinggi,” terangnya.
Survei tersebut dilakukan pada 1″10 Mei 2013 di 33 provinsi seluruh Indonesia dengan melibatkan 1.230 responden. Lewat wawancara tatap muka dengan dibantu kuesioner, margin of error survei tersebut mencapai 2,8 persen dan berada pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Menanggapi hasil survei tersebut, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Melani Leimena Suharli mengakui bahwa turunnya kepercayaan publik terhadap integritas parpol belakangan ini sering dikaitkan dengan keberadaan kader yang terjerat kasus korupsi. “Selama ini, pemberitaan partai dengan oknum-oknum, dengan kader-kader terlibat korupsi yang rakyat pikir menyakiti hatinya,” kata Melani di kompleks parlemen Jakarta kemarin.
Atas hal itu pula, politikus perempuan Demokrat yang juga menjabat wakil ketua MPR tersebut mengimbau setiap kader partainya untuk bekerja lebih keras dalam mengembalikan kepercayaan publik. Upaya tersebut wajib dilakukan secara bersama-sama, khususnya menjelang Pemilu 2014. “Kader lain yang harus membantu membersihkan, bahwa PD kotor hanya karena oknum, dan kami yang berbuat di jalan yang benar tidak termasuk kader yang mencederai hati masyarakat tersebut,” tandasnya.(dyn/c11/fat)
SUMBER : http://harianrakyatbengkulu.com//