LSI: Politik Primordial Sudah Tidak Laku

Lembaga Survey Indonesia

Lembaga Survey Indonesia

Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Syaiful Mujani mengatakan, isu-isu primordial semacam gender, kesukuan, agama, ataupun ormas keagamaan sudah tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap para konstituen pilpres.

Hal ini dipaparkan dalam konferensi pers mengenai hasil exit poll LSI tentang latar belakang dan perilaku pemilih, Kamis (9/7). Exit poll ini sekaligus sebagai penjelasan terhadap beberapa quick count yang dilakukan LSI.

Hasil quick count LSI sendiri menunjukkan, pasangan SBY-Boediono unggul dengan perolehan mencapai 60,8 persen suara. Sementara Mega-Prabowo mendulang suara sebesar 26,6 persen. Terakhir pasangan JK-Wiranto yang mendapatkan 12,6 persen suara.

Syaiful mengatakan bahwa survei exit poll justru lebih penting daripada sekadar hasil quick count. Jika quick count hanya berupa pemaparan angka-angka hasil pemungutan suara, maka exit poll inilah yang menggambarkan perilaku para pemilih terhadap pemilihnya tersebut.

“Di negara-negara maju sudah tidak dilakukan quick count. Yang ada hanya exit poll. Karena exit poll inilah yang lebih praktis dan informatif menjelaskan hasil pemungutan suara,” kata Syaiful.

Exit poll LSI ini menunjukan bahwa pertimbangan rasional lebih menentukan pilihan konstituen. Terbukti dalam masalah gender, perbedaan pilihan antara laki-laki dan perempuan tidak berbeda jauh. Pasangan SBY-Boediono sama unggul baik dari pemilih laki-laki dan perempuan. Masing-masing 55 dan 66 persen.

Secara kesukuan juga demikian, pilihan antara orang Jawa dan non-Jawa sama-sama menunjukkan keunggulan SBY-Boedino. Baik Jawa maupun non-Jawa, yang memilih SBY-Boediono sama besar 61 persen.

Secara agama juga tidak berbeda jauh. Namun, perolehan pasangan Mega-Prabowo meningkat jika merujuk pada agama si pemilih. Di kalangan umat Kristen dan Katolik, Mega-Prabowo meraih 42 dan 46 persen.

Sementara dari kalangan umat Islam, paparannya justru tidak berbeda jauh. Pilihan umat Islam dari kalangan NU maupun Muhammadiyah sama-sama tinggi pada SBY-Boediono, yaitu 64 dan 58 persen. “Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks politik, pengaruh para pemimpin maupun elite agama sudah tidak memiliki kekuatan terhadap perilaku memilih umat bawahannya,” kata Syaiful.

Menurut Syaiful, saat ini pertimbangan rasional yang lebih menjadi kriteria konstituen untuk menentukan pilihannya. Kriteria tersebut tecermin dalam alasan-alasan responden terhadap pilihannya. Antara lain dengan alasan program yang meyakinkan mencapai 38,6 persen dan alasan keberpihakan kepada rakyat sebesar 35,6 persen.

Syaiful berharap agar para elite politik meninggalkan isu-isu primordial karena isu semacam ini sudah tidak berpengaruh terhadap kriteria para pemilih. “Hasil exit poll ini hendaknya dapat dijadikan pembelajaran maupun panduan para elite politik dalam memetakan demografi para pemilih dan pendukungnya di pemilu-pemilu yang akan datang,” kata Syaiful.

Sumber : indonesiamemilih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone