Kabinet SBY, Antara Minimalis, Medium, & Oversize

Bima Arya Sugiarto

Bima Arya Sugiarto

Bima Arya Sugiarto geleng-geleng kepala. Direktur Charta Politika, konsultan politik Edhie Baskoro Yudhoyono dalam Pileg 9 April 2009 lalu ini dipaksa berpikir keras untuk menjawab pertanyaannya “Bagaimana membaca keinginan politik Susilo Bambang Yudhoyono, khususnya dalam membentuk kabinet periode 2009-2014?”

“Sangat sulit menebak keinginan orang seperti SBY,” katanya dalam diskusi di ruang wartawan DPR, Senayan, Jakarta (17/9/2009) malam.

Bima yang juga Wakil Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye SBY-Boediono selama pemilihan presiden menilai presiden terpilih itu memiliki perhitungan sangat cermat untuk jangka panjang dalam mengambil keputusan. Karena itu tak mengherankan jika keputusannya kerap disalahpahami oleh pengamat politik. “Ibarat main catur dia telah memikirkan tiga sampai empat langkah ke depan,” ujarnya.

Namun Bima buru-buru menambahkan, memprediksi hal yang menurutnya tersulit bagi seorang pengamat, keinginan SBY dapat dilakukan dengan mencermati tiga hal. Pertama, ucapannya, manuver politiknya, dan hasil survei.

Bima memberi catatan khusus untuk hasil survei karena menurutnya SBY sangat sensitif terhadap survei. Bahkan, dia menambahkan,”SBY adalah maniak survei.” Dengan kata lain, figur yang menurut survei layak jadi menteri amat diperhatikan SBY.

Ucapan Bima tampak relevan dengan pernyataan SBY saat berbuka puasa di kediaman Ketua DPR Agung Laksono 29 Agustus lalu. Ketika itu SBY mengaku mengikuti perkembangan berita di media massa tentang calon yang dinilai layak menjadi menteri. Dia juga membaca curriculum vitae calon yang disebut-sebut media. “Semua bagus sehingga saya kesulitan memilih ratusan calon karena slot yang ada terbatas,” katanya.

Kembali ke persoalan kabinet, Bima menganalisis dari segi manuver, SBY jelas hendak memperkuat sistem presidensil dengan memilih Boediono sebagai pendamping meskipun ditentang oleh koalisi partai pendukungnya.

Dugaan ini diperkuat dengan wacana penyatuan kantor wakil presiden dan presiden guna menghindari adanya matahari kembar di pemerintahan. SBY, kata Bima sangat ingin menjadi presiden legendaris yang memiliki warisan yang dikenang selama-lamanya. “Dia ingin memiliki kontribusi terhadap pembangunan sistem (politik),” ujarnya.

Lalu menteri dengan kriteria seperti apa yang diinginkan SBY guna mewujudkan harapannya? “Ada empat unsur yaitu representasi, kompetensi, regenerasi dan integritas,” kata Bima.

Representasi mencakup kategori wilayah, etnis, agama, dan gender. Kompetensi mengacu kepada kemampuan seseorang dan regenerasi terkait dengan faktor usia. Ketiga kriteria itu disempurnakan dengan integritas baik.

Nama yang bisa dipastikan akan duduk di kabinet adalah Wakil Ketua Tim Kampanye SBY-Boediono, Djoko Suyanto yang juga mantan Panglima TNI. “Sebagai Menko Polhukam,” kata Bima.

Selain itu ada Hatta Radjasa dan Sri Mulyani. Kandidat kuat lainnya adalah Mari Elka Pangestu karena representasi Tionghoa, intelektual, Katholik, dan perempuan. Singkatnya, Mari memiliki multiple atribute.

Kondisi dilematis justru menimpa menteri-menteri lain yang saat ini masih setia membantu SBY. Tidak ada jaminan bahwa mereka akan menjabat kembali. Mereka inilah yang kata Bima mencoba menonjolkan diri kepada SBY dengan berbagai cara tanpa harus terlihat bernafsu. Misalkan dengan bekerja baik-baik dan menjaga frekuensi namanya jadi pemberitaan di media massa. “Gimana caranya naik tapi kelihatan nggak ingin, ini susah sekali bagi konsultan politik,” katanya.

Untuk postur dan komposisi kabinet, Bima membaginya menjadi tiga tipe. Pertama, kabinet minimalis yang hanya diisi perwakilan koalisi partai politik pemenang pemilu yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Hitung-hitungannya, empat jatah menteri untuk Demokrat, tiga buat PKS yang lain masing-masing dua. “Jadi 13 perwakilan partai sisanya profesional,” ujar Bima.

Tipe kedua adalah kabinet medium yang menurut Bima paling ideal yaitu cerminan partai koalisi pemenang ditambah satu dari tiga partai yaitu Golkar, PDI Perjuangan dan Gerindra. Dengan formasi ini 16 menteri akan dijabat kader partai dan sisanya profesional. “Golkar paling berpeluang karena chemistry SBY dan Bang Ical sudah baik,” katanya.

Jenis terakhir adalah kabinet oversize yang diisi oleh wakil semua partai ditambah profesional. Bentuk ini bukan tidak mungkin akan dipilih SBY demi merangkul semua kekuatan politik guna meminimalisir konflik dan gangguan atas jalannya roda pemerintahan.

Sumber : Okezone
Jum’at, 18 September 2009 - 07:14 wib
Insaf Albert Tarigan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone