Gerindra: Egoisme PDIP Harus Dikurangi

Haryanto Taslam
“Kami didukung sponsor yang jelas dan siap memberi dukungan all out.”
Anggota Dewan Penasihat Partai Gerakan Indonesia Raya, Haryanto Taslam, meminta Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengurangi kadar egoismenya agar koalisi kedua partai bisa tercapai.
“Kalau yang besar merasa paling berharga ya tidak bisa. Jangan hanya karena merasa modal besar lalu dia (Megawati Soekarnoputri) harus ke depan (jadi calon presiden),” kata Haryanto, Rabu 6 Mei 2009.
Dia mengatakan hal itu ketika dimintai konfirmasi tentang pernyataan seorang petinggi PDI-P yang mengatakan, “Lho (Gerindra) cuma mendapat empat persen masa ingin jadi presiden.”
Haryanto berpendapat, koalisi partai politik mestinya didasari tujuan yang konkret. Tujuannya untuk membangun satu kekuatan yang utuh, kuat, dan bisa diharapkan menjadi modal untuk membangun pemerintahan yang akan datang.
Partai Gerindra, kata dia, meskipun hanya mendapat 4 persen suara tetap percaya diri mengusung Prabowo menjadi calon presiden karena, “Kami punya program konkret untuk melakukan perubahan dan kami didukung sponsor yang jelas, yang siap memberi dukungan dengan all out.”
Haryanto mengatakan jika koalisi PDI Perjuangan dan Partai Gerindra tidak menemui titik temu, karena Megawati tetap berkeras hati menjadi calon presiden, maka, “Ya nggak usah (mundur dari koalisi). Kami tidak maju juga tidak apa-apa.”
Meskipun Partai Gerindra tetap percaya diri mengusung Prabowo menjadi calon presiden, Haryanto menyadari peta politik saat ini tidak menguntungkan untuk koalisi karena sisa waktu pengajuan calon presiden tinggal sebentar. Karena itu, kata dia, agar kebuntuan koalisi dengan PDIP bisa dicairkan, maka kedua partai harus tetap intensif berkomunikasi untuk mencari kesamaan.
Sumber Siswanto VIVAnews
“Lho (Gerindra) cuma mendapat empat persen masa ingin jadi presiden.”, itu mah namanya serakah dan tak tahu diri pak !.
Ya yang sabar ya Rakyat_Peduli. Untung sekarang sudah banyak rakyat yang peduli seprti sampeyan ini.Lha wong amerika aja negara superpower partainya cuma 2, kan suara 100 %. Kalo dibagi 2 msing2 50%. Jadi kemungkinan nya antara YA dan TIDAK. Lha negara kita, partainya sama jumlah propinsinya hampir sama, apa gak pusing itu, dan yang paling nyebelin ya atas nama rakyat. Rakyat yang mana , suaranya aja hanya puluhan ribu di Indonesia, penduduknya ratusn juta.Ya bisanya hanya prinsip SIpa tahu JAdi ( maksudnuya ya jadi kalah he he he ). Partai2 yang suaranya tidak signifikan malah jadi penentu kemenanganpemilu, apa gak lucu Indonesia itu?Ya itulah Indonesia , merasa punya uang ya bikin parati, gak peduli suara rakyat yang penting maju atas nama rakyat.
Ya begitulah mas kalo jiwanya preman. Mas lihat sendiri kan di setiap daerah itu, premannya paling banter 10 orang, warganya ratusan orang. Lihat kelakuannya, 10 orang maksain bahkan ngompasin hak2 warga, ngganggu warga karena dirinya preman. Ini seperti gambaran yang terjadi di Gerindra. Ya bos nya preman, anak buahnya pasti ikut bosnya. 3% mau ngangkangi yang 14%.Ya mana mau?Kalau mau, bagaimana nasib aspirasi yang 14% ini?Untung Bu Mega cepat sadar. Ingat PDIP kehancuran partaimu tahun 1998 dan kerusuhan Mei 1998, disinyalir tokoh dibaliknya adalah “Sahabat” yang mau kau gandeng, Mr. Prabowo.
mau mega atau prabowo, sama saja, smuanya cuma haus kekuasaan.
taunya cuma kasi kritik aja. kasi solusi kek, kan smuanya bisa dibicarakan baik2, kita ini kan terkenal dengan masyarakatnya yg ramah tamah.
GERINDRA paling lama juga tahan cuma 2 periode, jadi pecundang terus aja ! Masa partai kecil mau jadi presiden. Gila tuh !
NGACA DONG BT GERINDA…SUARA 4% MAU JADI PRESIDEN….MUSTAHIL…LEGITIMASI DARI RAKYATPASTI JUGA RENDAH..BELUM BERPENGALAMAN…hehehehehhe….
Seminggu sebelum Pemilu Presiden 2009, rumah saya kemasukan maling. Mereka (pencuri kira-kira 2 orang) ngambilin dua tabung gas LPG di dapur, 3 buah HandPhone. MasyaAllah…Saya harap tidak ada lagi kejadian ini.
Saya sangat meragukan kelanjutan suatu partai kalau senantiasa mengandalkan ketokohan seseorang. Indonesia perlu banyak pemimpin. Janganlah kita mimpi bahwa pemimpin Republik Indonesia hanya tunggal dan yang pertama saja.
Egoisme Gerindra yang harus dikurangi, ibarat cuma punya 4 % mau sok berkuasa tunggangi PDIP 14 % , itu namanya gak tahu diri , dasar muka tembok !