SBY: Yang Penting Kemasan

Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono

Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkampanye dengan meninjau Sentra Indusri Tempe Sanan, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (12/6). Di depan perajin dan penjual, SBY menekankan pentingnya kemasan dalam setiap produk untuk penjualannya.

Yang penting kemasan, karena produk dan isinya sama saja. Pandai-pandailah membuat branding. Pandai-pandailah membuat kemasan,” ujar SBY saat berdialog dengan seorang pedagang.

SBY datang didampingi Ny Ani Yudhoyono dan rombongan besar tim kampanyenya. Kampanye disiapkan dan diatur oleh Fox Indonesia dengan CEO Choel Mallarangeng. Anggota rombongan yang menyertai SBY antara lain Presiden PKS Tifatul Sembiring, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PPP Suryadrama Ali, dan Sekjen PAN Zulkifli Hasan.

Turut juga mendampingi persis di sebelah SBY dengan batik lengan panjang warna biru adalah putra bungsunya Edhie Baskoro Yudhoyono. Terlihat juga di antara rombongan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono Djoko Suyanto.

Warga di sekitar sentra industri tempe berkerumun dan berebut ingin bersalaman dengan SBY dan Ny Ani. Selain mereka berdua, yang ramai diperebutkan untuk disalami adalah Andi Mallarangeng.

SBY yakin, dengan kondisi keamanan dan stabilitas yang terjaga, ekonomi rakyat akan berkembang baik. Krisis ekonomi global memang berdampak, tetapi Indonesia dapat bertahan. “Pasar dalam negeri makin besar juga tumbuhnya,” ujar SBY.

Sumber : KOMPAS Wisnu Nugroho A

2 Responses to SBY: Yang Penting Kemasan

  1. Netral June 13, 2009 at 7:19 pm

    “Yang penting kemasan, karena produk dan isinya sama saja. Pandai-pandailah membuat branding. Pandai-pandailah membuat kemasan,” ujar SBY saat berdialog dengan seorang pedagang.
    Tidak ada yang salah dalam anjuran tersebut, karena tujuan beliau ingin meningkatkan pendapatan rakyatnya.
    Dengan kemasan yang menarik, akan membuat konsumen lebih tertarik dan mau membelinya. Karena umumnya manusia akan lebih tertarik lebih dulu kepada label. Seandainya konsumen tidak memperdulikan kenaikan harga karena misalnya pendapatan konsumen sudah cukup baik, maka baik produsen maupun pedagang akan meningkat pendapatanya. Dan kemungkinan akan menambah tenaga kerja, baik produsen maupun pedagang sehingga mengurangi pengangguran. Kemudian sampah dari kemasan atau label yang menarik akan membuat nilai jualnya jadi naik dan lebih meningkatkan pendapatan pengumpul sampah, bahkan mungkin dapat menciptakan lapangan kerja baru.
    Hanya apabila ditinjau dari dampaknya, produsen makin berlomba lebih memetingkan kemasan daripada isi baik quality maupun quantity. Biaya untuk membuat kemasan akan jadi naik, sehingga harga jual menjadi lebih mahal.
    Jika produsen ingin meningkatkan kemasan tanpa menambah biaya produksi, maka diperlukan skill yang lebih tinggi, tetapi meningkatkan skilpun perlu biaya. Tetap saja ujung-ujungnya menambah biaya produksi.
    Apabila harga jual tidak naik maka produsen akan makin kecil keuntungannya atau mungkin malah jadi rugi, karena konsumen tidak mau beli karena harganya jadi naik.
    Padahal tujuan semula ingin meningkatkan keuntungan. Untuk menghindari hal tersebut produsen akan merurunkan salah satu atau mungkin dua-duanya yaitu qualitas dan atau quantitas. Ujung-ujungnya konsumen yang dirugikan karena biaya hidup jadi naik, padahal yang dibutuhkan isinya, sedangkan label, kemasan atau brand hanya akan menjadi sampah.
    Pedagangpun ingin meningkatkan keuntungannya, tetapi harga belinya saja sudah naik. Jika harga jual dinaikan lagi sesuai dengan kenaikan harga beli, artinya tidak ada keuntungan yang meningkat buat pedagang. Jika harga jual dinaikan lagi lebih tinggi daripada kenaikan harga beli, maka konsumen akan mengurangi pembeliannya, sehingga dagangan yang ada di penjual kemungkinan akan keburu kadaluwarsa.
    Dampak phisiologis membuat konsumen hidup boros dan konsumtif. Boros karena yang dibutuhkan isinya, sedangkan label, kemasan atau brand hanya akan menjadi sampah. Dan Konsumtif, karena konsumen dibiasakan membeli produk hanya tertarik karena label, kemasan atau brand, bukan lagi kepada kebutuhannya. Karena akan beranggapan dengan membeli produk yang mempunyai lebel, kemasan atau brand yang menarik dan terkenal akan meningkatkat gengsi.
    Dan justru keadaan tersebutlah yang terjadi sekarang pada rakyat Indonesia, kecendurangan memilih gengsi daripada fungsi. Gengsi telah menggeser kedudukan fungsi. Keinginan sekunder telah menggeser kebutuhan primer.

    Seandainya dibalik “Yang penting kualitas, karena produk yang berkualitas akan selalu dicari konsumen dan secara otomatis kuantitas akan meningkat. Pandai-pandailah meningkatkan kualitas. Jangan mendahulukan kemasan, karena kemasan unjung ujung nya hanya akan menjadi sampah,”.

  2. Melfa Emka June 17, 2009 at 11:32 am

    Sama tuch sama yang bilang (SBY maksudnya)
    yang penting kemasannya ganteng….wibawa..pencitraan….isinya bopong …..

    Orang dimana2 bicara qualitas kok jadi kemasan…..waduh bapake…bapake…
    presiden kok ngomong kegitu..

    dimana2 qualitas bagus..pasti kemasannyapun bagus……

    ketahuan suka nipu rakyat luarnya bagus…dalamnya busuk..
    Pak SBY nyaku sendiri dech

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone