Mengapa Elektabilitas SBY Turun dan JK Naik

SBY - JK
“Jika tren ini terus terjadi, pilres satu putaran untuk pasangan SBY-Boediono akan kalah.”
Juru bicara lembaga survei Indonesia Development Monitoring (IDM), Maulana Bungaran, memprediksi penyebab menurunnya elektabilitas pasangan SBY-Boediono ialah kekeliruan strategi kampanye politik menjelang pemilihan presiden.
“Antara lain, pukulan telak JK terhadap iklan pilres satu putaran (SBY) yang dianggap tidak demokratis,” kata Maulana dalam presentasi hasil survei IDM di Hotel Lumerie, Jakarta Pusat, Sabtu 4 Juli 2009.
Selain itu, katanya, menurunnya tren elektabilitas SBY-Boediono juga karena pernyataan-pernyataan anggota tim kampanye nasional duet itu yang kurang tepat. Misalnya, ada yang sampai menyinggung isu suku agama ras dan antar golongan sehingga berdampak negatif.
“Jika tren ini terus terjadi, pilres satu putaran untuk pasangan SBY-Boediono akan kalah, dan tidak lolos ke putaran kedua,” katanya.
Penurunan itu diketahui dari dua kali survei yang dilakukan IDM, Juni dan Juli 2009. Survei ini telah mencatat elektabilitas pasangan Megawati-Prabowo konsisten di urutan teratas.
Sementara itu, pasangan Jusuf Kalla Wiranto, meski berada di bawah SBY-Boediono, tetap menunjukkan kenaikan elektabilitas menjelang hari pemilihan presiden dalam dua survei itu.
“Sumbangan suara responden yang mendukung JK-Wiranto sebagian besar dari responden yang tadinya mendukung SBY-Boediono dan golput,” katanya.
Survei pertama IDM yang dilakukan 1 Juni-16 Juni terhadap pasangan Mega-Prabowo mencapai 44,82 persen. Kemudian disurvei lagi pada 17 Juni-3 Juli 2009, hasilnya 44,13 persen.
Sedangkan survei elektabilitas SBY-Boediono yang pertama meraih 30,43 persen. Kedua, menjadi 27,5 persen.
Sebaliknya, tren dukungan terhadap duet Jusuf Kalla-Wiranto mengalami kenaikan fantastik. Survei pertama mereka hanya dapat 13,2 persen. Setelah dilakukan survei lagi ternyata meroket menjadi 26,57 persen. Kendati meroket, posisi duet ini tetap berada di urutan terakhir.
Survei pertama IDM menggunakan 2.047 responden. Pada survei kedua jumlah responden ditingkatkan menjadi 3.700 orang.
Sumber : Siswanto, Sandy Adam Mahaputra • VIVAnews
Apakah pak JK akan berkomentar yang sama seandainya berada diatas angin, apakah pemilu harus 2 putaran baru demokratis, saya kira masing-masing punya interpretasi makna kata tersebut, tergantung merah, biru, atau kuning, jadi mohon semua elemen bangsa ini marilah ciptakan iklim yang sejuk. Siapa menang mari kita dukung demi bangsa tercinta ini