Jangan Lawan Survei dengan Survei

Survei
Dengan membaca hasil survei, sebaiknya kandidat lain tidak melawannya dengan survei.
Berdasarkan survei, kampanye perubahan yang digencarkan kandidat capres lain tak membuat elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) anjlok. Dengan membaca hasil survei Pemilihan Presiden, sebaiknya kandidat lain tidak melawannya dengan survei lagi.
“Kampanye perubahannya yang belum efektif,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani, dalam pemaparan hasil survei terbaru di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2009.
Menurut Saiful, seharusnya dengan membaca hasil survei ini, tim kampanye itu bisa berpikir. Langkah apa selanjutnya yang dapat dilakukan agar persepsi masyarakata dapat berubah.
“Bukannya malah bikin survei lagi untuk menandingi yang ini. Itu yang belum terjadi selama ini,” ujar dia. Saiful menilai, ada tiga alasan utama mengapa rakyat Indonesia dalam survei itu, masih memilih SBY.
Pertama, masyarakat melihat dari sisi keamanan. Di bawah pemerintahan SBY, lanjut Saiful, kondisi negara relatif aman. Kedua adalah faktor penegakan hukum.
“Masyarakat itu tidak bisa menegakkan hukum, yang bisa hanya negara. Salah satu penegakan hukum adalah pemberantasan korupsi,” kata dia. Faktor ketiga yang membuat masyarakat masih memilih SBY, ujar dia, yakni soal kondisi sosial ekonomi.
Pernyataan Saiful itu berdasarkan hasil survei Pemilihan Presiden yang dirilis LSI, dari 2.000 responden yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Survei dilakukan pada 15-20 Juni 2009, dengan menggunakan metode multistage random sampling.
Hasil survei penilaian masyarakat soal tiga faktor utama selama kepemimpinan SBY:
Kondisi ekonomi nasional:
1. Lebih baik, 52 persen
2. Lebih buruk, 21 persen
Kondisi keamanan dan ketertiban:
1. Baik, mencapai 67 persen
2. Buruk mencapai 9 persen
3. Sedang-sedang saja, 23 persen
4. Tidak tahu, 2 persen
Penegakan hukum secara nasional:
1. Baik, 59 persen
2. Sedang, 25 persen
3. Tidak tahu, 5 persen
Sumber : Ismoko Widjaya, Mohammad Adam ismoko.widjaya@vivanews.com
• VIVAnews
Kebiasaan jadi folower, pengekor.. gak punya ide dan gak kreatif dalam menghadapi segala sesuatu. Mudah kan….
Rakyat dah pinter..Jangan sekali-kali melecehkan Intelektualitas Rakyat. Survey hanya untuk pertimbangan saja,banyak faktor untuk Seseorang dalam menentukan pilihan pada waktunya nanti.
Survey jajak pendapat dilakukan dengan metoda ilmiah yang sejatinya dapat dipertanggung jawabkan secara akademis. Kita bingung kalau ada survey yang direkayasa dan tidak benar. Survey gak boleh dipengaruhi perasaan secara subjektif tetapi harus secara objektif sehingga data-data yang terkumpul sebagaimana adanya hingga diperoleh sejumlah data-data yang valid pada tingkat jumlah yang cukup yang kemudian diolah untuk dapat digunakan memotret berbagai pendapat masyarakat sesungguhnya. Sebagai lembaga professional saya gak percaya LSI melakukan kebohongan publik. Memang ironis kalau belum-belum sudah kalah. Tapi itulah, semoga pasangan SBYBERBUDI jaya dan sukses.
Lembaga survey kita dah OK Tuch….
Emang Statistik gak bisa 100% bener, terlalu banyak faktor yang bisa bikin meleset.
Tapi kita seharusnya yakin dengan perhitungan matematis.
Dunia ini tidak akan maju tanpa perhitungan matematika.