Inilah Alasan Wiranto Mau Jadi Cawapres

Cawapres Wiranto
Cawapres koalisi Golkar-Hanura, Wiranto, langsung membeberkan alasan mengapa dirinya menerima “pinangan” menjadi cawapres Jusuf Kalla. Padahal, belum satu pun pertanyaan dilayangkan kepadanya.
Ia menyadari bahwa pilihannya ini pasti akan menimbulkan berbagai pertanyaan, apalagi pada pilpres 2004 lalu, ia menjadi capres Partai Golkar.
“Kenapa Wiranto siap bergabung dengan Golkar sebagai cawapres, padahal dulu (2004) menjadi kandidat capres Golkar, sekarang jadi cawapres Golkar. Sebelum ada isu, saya akan jawab,” kata Ketua Umum Partai Hanura ini saat memberikan sambutan di acara pendeklarasian JK-Win, di Posko Slipi II Golkar, Jakarta, Jumat (1/5) malam.
Alasan pertama yang diutarakannya adalah pertimbangan rasional dari wilayah politik. Hanura memang telah memutuskan dalam rapimnasnya akan mengusung ketua umum sebagai capres.
“Tapi itu (capres) kalau perolehan suara Hanura lebih dari 10 persen. Karena kurang dari 10 persen, tidak usah mimpi. Kalau sekarang down grade, dalam konteks perjuangan yang tidak pernah berhenti, tidak ada salahnya. Untuk itu saya bersedia dan siap tatkala Pak JK, saudara dan sahabat saya yang pernah sama-sama bertempur di konvensi (Golkar), meminta, maka saya katakan saya siap mendampingi beliau,” ujar mantan Panglima TNI ini lantang.
Secara chemistry, Golkar dan Hanura, menurutnya, juga banyak kesamaan. Kedua partai ini, dalam pandangan Wiranto, sama-sama berjuang pada basis nasionalis dan religius. “Dari sisi kepartaian, seragamnya pun hampir sama, tapi Hanura warna kuningnya tua sedikit,” katanya sambil tertawa.
KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Nggak usah malu2 pak Wiranto, alasan utamanya adalah ‘karena terpaksa’ kan ?, masyarakat juga sdh tahu !. Tapi alasan JK mengajukan diri sendiri sbg capres paling cepat, krn takut didahului kudeta oleh intern partainya.
Ass. Ya sing jelas Wiranto dan JK itu pelacur politik. Mendengungkan harga diri dan martabat, tapi kelakuan JK dan Wiranto tidak bermartabat. Merasa Golkar dihina,. Golkar bukan dihina, tapi terhina oleh ulah si JK itu.