Bang Akbar Masih Berkibar

Akbar Tandjung

Akbar Tandjung

Politikus kawakan Akbar Tandjung memang tidak menjadi fokus sorotan dalam percaturan politik kali ini.

Meski demikian, keberadaan tokoh senior Partai Golkar itu masih tetap diperhitungkan. Terbukti, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di Solo, 27 – 29 Januari lalu, di antara lima bakal calon pendamping Megawati yang dimunculkan, satu di antaranya adalah nama Akbar Tandjung.

Di kancah politik tanah air, Akbar Tandjung bukan nama asing. Dia merupakan satu di antara politikus eks Orde Baru yang tetap eksis dan setia berdiri di bawah beringin. Bahkan ketika partai itu banyak ditinggalkan kader-kadernya, Bang Akbar tetap pada pendirian, berjuang lewat Golkar.

Dia menjadi ketua umum Golkar ketika partai itu tengah dalam masa yang sangat kritis. Sebagai partai yang pernah menjadi mesin politik kekuasaan yang sedang mengalami degradasi, tentu Golkarlah yang menjadi alamat caci maki. Bahkan sebagian tuntutan menghendaki partai itu dibubarkan.

Pembawaan politikus kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, 14 Agustus 1945 itu selalu tenang. Sikap ini yang membuat dia disegani lawan politiknya.

Semula, banyak orang mengira bahwa karir politik mantan Ketua Umum DPR RI itu akan berakhir setelah dia tersandung kasus korupsi dana nonbudgeter Badan Urusan Logistik (skandal Buloggate) sebesar Rp 40 miliar semasa menjabat Mensesneg di kabinet transisi pimpinan BJ Habibie.

Saat kasus itu mengemuka, Akbar tengah menjabat Ketua Umum DPP Partai Golkar. Tetapi, pada perjalanannya, Akbar berhasil lolos dari lubang jarum kasus itu setelah Mahkamah Agung menerima kasasinya.

Konvensi
Menghadapi Pemilu 2004, Partai Golkar dirundung kebimbangan. Sebagian pengurus elit berpendapat bahwa ketua umum partai tidak otomatis dapat diajukan sebagai calon presiden. Terlebih saat itu reputasi Akbar Tandjung sedang turun setelah sempat berurusan dengan meja hijau.

Dari sanalah, muncul isu konvensi. ”Saya selalu mengerti keinginan anggota yang saya pimpin. Saya berupaya mengakomodir keinginan para anggota. Karena itulah, kami menggelar konvensi,” kata Bang Akbar.

Dengan segala harapan yang besar, Partai Golkar yang hendak melakukan terobosan dalam dunia perpolitikan, mencoba jalan konvensi untuk menentukan bakal calon presiden yang akan diusung pada Pemilu 2004.

Dalam pandangan Bang Akbar, konvensi yang digelar partainya tidak lain merupakan suatu cara untuk memulihkan citra partai di mata masyarakat.

Prediksi Bang Akbar memang tidak meleset. Terbukti pada Pemilu 2004, Golkar kembali tampil sebagai peraih suara terbanyak, mengalahkan rivalnya, PDIP yang sebelumnya sempat keluar sebagai pemenang pada pemilu tahun 1999.

Namun demikian, perhelatan konvensi itu sendiri hampir tidak membuahkan hasil maksimal, kecuali bahwa itu kemudian menjadi titik mula perpecahan di tubuh Partai Golkar.

Wiranto yang keluar sebagai pemenang dalam konvensi yang digelar di Bali itu, nyatanya tidak mendapat dukungan suara bulat dari internal partai ketika dia maju sebagai calon presiden.

Belajar dari pengalaman satu kali menggelar konvensi, ketika akan menghadapi Pemilu 2009 ini, isu konvensi tidak lagi disebut-sebut sebagai masalah krusial yang harus dijalankan kembali. Akbar tentu saja menyatakan penyesalan atas hal ini. Ia menyebut partainya ”tengah mengalami kemunduran.”

Optimisme
Akbar tidak pernah berhenti berharap. Ia percaya kepada kekuatan harapan. Sekuat harapan dia saat dipercaya membawa gerbong partai yang tengah limbung pada masa transisi.

Tetapi itulah jasa Akbar yang paling besar. Ia berhasil membawa partainya melewati masa sulit antara periode 1998-2004.

Setelah tidak menjabat ketua umum partai, Akbar sempat menarik diri dari panggung politik. Ia manfaatkan waktu jeda ini untuk menuntut ilmu dengan mengambil program doktoral (S3) bidang ilmu politik di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Tahun ini gong pemilu sudah ditabuh. Pengabdian Akbar untuk bangsa lewat jalur politik belum berakhir. Ia masih ingin melanjutkan apa yang belum diraih, dan mengharapkan apa yang mungkin dicapai.

Barangkali, dia percaya dengan kata-kata bijak filsuf Hannah Arendt, bahwa politik pada dasarnya adalah ”seni mengabadikan diri.” Karena itu, Akbar percaya bahwa jalur politik adalah jalan hidupnya. Jalan yang akan mengabadikan namanya.

Akbar menilai masih ada begitu banyak peluang. Survei-survei masih memasang namanya di posisi calon presiden atau calon wakil presiden. Hasil survei itu tentu sudah cukup menjadi bukti yang dapat memulihkan kepercayaan dirinya, bahwa hingga saat ini, nama “Bang Akbar” masih berkibar di gelanggang politik tanah air

One Response to Bang Akbar Masih Berkibar

  1. yupiter jangkobus February 9, 2012 at 4:23 am

    saya masuk dan bergabung dengan partai golkar sejak 1999 karena mengagumi bang akbar tanjung, dan hingga saat ini saya meneladani bang akbar untuk tetap setia bersama partai golkar walau apapun yang terjadi,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone