Maruarar Sirait : PDI Perjuangan, Partai Pilihannya Anak Muda

Selain memperjuangkan rakyat kecil, PDI Perjuangan bertekad memperjuangkan generasi muda. Maruarar Sirait, salah satu politisi muda PDI Perjuangan bertanggung jawab mengurus hal tersebut. Ketua Departemen Bidang Program Pemuda dan Olahraga DPP PDI Perjuangan dan anggota Komisi XI DPR RI ini memang dikenal sangat dekat dengan anak muda. Ia juga Ketua Taruna Merah Putih, organisasi sayap pemuda PDI Perjuangan. Bang Ara, begitu sapaan akrabnya mengatakan, semua partai politik pasti akan berlomba-lomba merangkul generasi muda, dan ini justru menguntungkan generasi muda. Namun persoalannya, kata Ara, harus ada advokasi dan pendidikan bagaimana mengurus generasi muda bukan hanya menjelang pemilu saja. “Ini yang dipesankan Ibu Mega kepada saya,” jelas inisiator Hak Angket Century di DPR RI.

 

Tokoh muda yang memiliki pergaulan luas di kalangan organisasi mahasiswa dan pemuda itu, kini tengah merumuskan pelbagai program guna merespon kebutuhan generasi muda. Berikut petikan wawancara tim redaksi pdiperjuangan. or.id dengan Maruarar Sirait:

 

 

Partai menugaskan anda untuk mengurus kaum muda. Program apa saja yang hendak anda lakukan guna mengurus hal tersebut?

Menurut saya, PDI Perjuangan harus bisa mengidentifikasi dirinya selain sebagai partai wong cilik yang memperjuangkan rakyat kecil, juga harus bisa menjadi partai pilihannya anak muda. Untuk mencapai tujuan itu tentunya tidak mudah karena kita mempunyai banyak saingan. Dan semua partai pasti akan berusaha bisa disukai dan dipilih oleh anak muda. Oleh karena itu, ada hal-hal yang mendasar yang harus kita kerjakan. Pertama; Melakukan pemetaan (mapping) mengenai anak muda. Pemetaan pandangan anak muda mengenai politik, serta pemetaan mengenai minat anak muda. Karena kita ketahui bersama banyak juga anak muda yang apatis karena beranggapan politik itu kotor dan sebagainya. Selain itu, juga kurang berminat karena lebih berminat pada bidang ekonomi, seni, pendidikan, budaya atau olahraga. Kedua; Kita harus mengetahui program-program apa yang diharapkan oleh anak muda. Dari pengamatan saya program ekonomi pemberdayaan pemuda saya tinggi sekali diminati karena banyak pemuda kita yang menganggur, atau dia bekerja di luar pendidikannya dia. Untuk itu, contohnya kita membuat koperasi merah putih di Jakarta guna pendanaan anak muda.

 

Jadi program yang kita buat tidak model top down, tetapi berbasis pada harapan dan aspirasi generasi muda. Tentunya kita menyadari bahwa kita tidak bisa mengerjakan semuanya karena keterbatasan sumber daya manusia, dana, dan waktu. Karena itu, kita membuat skala prioritas. Tentu skala prioritas dalam kontes partai politik. Kalau semua partai politik berlomba-lomba bersaing secara positif untuk merangkul anak muda dengan cara mengurus kebutuhan serta menyelesaikan masalah anak muda, saya pikir justru yang diuntungkan anak muda itu sendiri. Namun persoalannya harus ada advokasi dan pendidikan bagaimana mengurus hal ini bukan hanya demi kepentingan politik sesaat atau menjelang pemilu saja. Berbaik-baik menjelang pemilu setelah itu ditinggalkan. Hal ini yang dibilang oleh Ibu Mega bahwa kita tidak boleh bekerja menjelang pemilu saja, atau menemui rakyat kalau butuh saja.

 

Tadi anda menyebutkan skala prioritas. Prioritas pertamanya itu apa?

Kita harus menampilkan figur-figur anak muda di bidang politik, ekonomi, olahraga, budaya dan kesenian yang menjadi trendsetter di kalangan anak muda. Kita melakukan forum diskusi, focus discussion group, dan survei untuk menentukan siapa-siapa saja anak muda yang disukai oleh generasi muda. Saya percaya orang menyukai seseorang karena ada prosesnya, bukan tiba-tiba. Melihat dari segi prestasinya, karyanya, dedikasinya, dan pergaulannya.Tentu saya membayangkan partai ini bisa menampilkan anak-anak muda di segala bidangnya. Contohnya, ada Utut Adianto di bidang olahraga catur. Di bidang pengusaha muda, ada Ari Batubara. Kemudian di bidang parlemen ada Ganjar, Rieke, artis tapi berhasil mentransfomasikan dirinya menjadi politisi yang bagus, Budiman yang mantan aktivis, dan banyak lagi yang lainnya. Bagaimanaanak muda-muda yang ada tersebut diberi ruang, kesempatan, dan ini menjadi etalase partai bahwa partai kita itu partainya anak muda. Dimana anak muda bisa berkreasi, dan egaliter. Tapi tentunya harus loyal dan ideologis kepada partai. Selain itu, kita juga harus melakukan penyiapan dan rekrumen kader.

 

Terkait penyiapan dan rekrumen kader. Bagaimana polanya?

Dalam mencapai tujuan partai, penyiapan dan rekrutmen kader merupakan kata kunci yang sangat penting. Untuk itu, harus dipakai kriteria yang jelas, yaitu ideologi, loyalitas, dan memperhatikan nilai tambah dari kader. Ada berbagai macam tipe kader, ada kader organisatoris, ada kader administratif, kader struktural dan fungsional, ada kader yang cakap dalam mengidentifikasi atau merumuskan masalah, dan sebagainya. Namun, posisi Kader Pemuda PDI Perjuangan adalah sebagai Kader Pelopor yang harus mampu menyelesaikan masalah; bukan menjadi Kader Pelapor yang kerjanya mengadukan masalah ataupun kader yang merupakan bagian dari masalah.

 

Di PDI Perjuangan banyak organisasi pemuda, ada Banteng Muda Indonesia, Relawan Pejuang Demokrasi, dan Taruna Merah Putih. Apa tanggapan anda?

Kita ini semuanya adalah organisasi seasas dan seaspirasi yang bertujuan dan berguna untuk membesarkan partai. Relawan Pejuang Demokrasi (Repdem) banyak diisi oleh aktivis, Banteng Muda Indonesia (BMI) bergerak di bidang pemuda. Taruna Merah Putih (TMP) yang kebetulan diketuai oleh saya diisi oleh berbagai lintas anak muda. Ada yang dosen, kalangan pengusaha muda, aktivis dan kaum profesional lainnya. Jadi masing-masing organisasi tersebut mempunyai wilayah garapannya sendiri.

 

Anda bilang kalau semua partai politik ingin merangkul generasi muda justru hal itu bagus untuk anak muda. Lalu bagaimana anda melihat peran pemerintah dalam hal ini?

Beberapa waktu yang lalu saya mengundang pimpinan-pimpinan organisasi mahasiswa pemuda, seperti, HMI, PMKRI, GMNI, dan lain-lain. Di situ kita tahu harapa mereka tingggi. Mereka tetap idealis, mereka tidak jadi opportunis, mereka menjadi pengontrol legislatif dan eksekutif sebagai kekuatan penekan, dan tentu harus independen. Nah selama ini, mereka mengurus organisasi, harus mendirikan organisasi, membuat cabang daerah, dan sebagainya, sementara rata-rata mereka masih kuliah atau baru lulus. Jadi secara ekonomi mereka masih sangat terbatas. Saya sempat bertanya kepada mereka tentang pembiayannya selama ini bagaimana? Katanya ada gotong royong dari senior dan sebagainya, dari proposal, dan sebagainya. Menurut saya ini sangat tidak benar. Negara seharusnya memberikan perhatian bagi generasi muda, supaya mereka tetap terjaga idealismenya, tidak pragmatis, tidak terkontaminasi. Untuk itu harus diurus oleh Negara. Cara mengurusnya bagaimana? Yah tentunya dengan memberikan anggaran yang cukup bagi organisasi pemuda mahasiswa. Saya sudah bicarakan hal ini dengan Menpora serta teman-teman di panitia anggaran untuk bisa memperjuangkan hal ini. Memang selama ini sudah ada anggaran, tetapi terlalu kecil. Mereka kebanyakan kuliah dan ngurus organisasi, lantas cari duitnya dari mana? Ini harus menjadi perhatian pemerintah karena generasi muda adalah harapan bangsa dan rata-rata pemimpin bangsa ini berangkat dari aktivis. Aktivis mahasiswa, aktivis pemuda. Jadi mereka harus diperjuangkan nasibnya. Oleh karena itu, Anggaran untuk mahasiswa dan pemuda harus ditingkatkan. Dan hal ini harus dibuktikan dengan politik anggaran dan good will yang kuat dari pemerintah dan DPR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone