Kualitas Pemilihan Dinilai Terburuk

Cara Menandai/Mencontreng Pemilu 2009
Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat menilai Pemilihan 2009 terburuk sepanjang sejarah. Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih, Daniel Zuchron, mengatakan kualitas pemilihan kali ini kalah jauh dibandingkan pemilihan pascareformasi.
“Kualitas pemilihan kali ini terburuk. Kita melangkah mundur,” kata Daniel saat dihubungi, Rabu (8/7).
Buruknya pemilihan, kata Daniel, ditandai dengan daftar pemilih yang sangat buruk. Ia mencontohkan, di Ngawi ada daftar pemilih yang sama persis dengan pemilihan legislator.
Komitmen Komisi Pemilihan untuk membersihkan daftar pemilih dari pemilih ganda juga tak terwujud. “Tak ada perubahan kualitas dari daftar pemilih legislator,” katanya.
Menurut Daniel, penggunaan kartu tanda penduduk untuk pemilih yang tak terdaftar juga sangat minim. Kondisi ini, bukan berarti jumlah pemilih yang tak terdaftar sedikit, melainkan sosialisasi penggunaan kartu penduduk tak sampai ke masyarakat.
Jaringan Pendidikan Pemilih memperkirakan masih banyak pemilih yang tak terdaftar tapi enggan menggunakan haknya.
Daniel menilai penyelenggaran pemilihan kali ini lebih sebagai formalitas. Tahapan pemilihan dilaksanakan tanpa menggenjot kualitas dari tahapan itu sendiri. “Jelas pemilihan disiapkan oleh penyelenggaranya dengan tidak baik,” ujarnya.
Selain itu, pemilih juga tak mendapatkan pendidikan politik dari pemilihan kali ini. Akses pemilih untuk mengetahui persiapan maupun peserta pemilihan juga sangat sedikit. Pemilih menjadi kurang mengenal wakil yang akan dipilihnya. Akibatnya, pemilih tak bisa menagih janji dari wakil yang dipilih.
Jaringan Pendidikan Pemilih mencatat hanya ada satu keunggulan dari pemilihan kali ini, yaitu nyaris tak ada gejolak di masyarakat untuk bertindak anarkis.
“Tentu ini masih bisa diperdebatkan, tapi pemilih cenderung punya kesadaran tinggi untuk tak bertindak anarkis, meskipun kondisi itu bisa jadi karena pemilih sudah apatis,” katanya.
Anggota Komisi Pemilihan, Abdul Aziz, mempertanyakan penilaian lembaga pemerhati pemilihan. Ia menilai lembaga tersebut tak memiliki parameter yang jelas untuk mengukur kualitas pemilihan. “Apa parameter kualitas pemilihan buruk?” ujarnya.
Menurut Aziz, lembaganya juga telah terbuka terhadap para tim kampanye pasangan calon soal daftar pemilih tetap. Komisi Pemilihan mengizinkan tim kampanye memverifikasi daftar pemilih.
Sebelumnya, Komisi pusat juga telah meminta Komisi di daerah memberikan salinan daftar pemilih kepada para tim kampanye. “Kami sudah sangat terbuka soal daftar pemilih,” katanya.
Sumber : PRAMONO tempointeraktif
Salah satu indikator kualitas pemilihan dinilai buruk adalah banyaknya ( 5.000.000 ) DPT yang bermasalah, baik pemilih ganda maupun pemilih yang tidak terdaftar.
Kualitas apanya….?Ya lebih bagus dong, cuma pelu pembenahan dan perbaikan…Soal DPT, ya lebih bagus dong dari pemilu-pemilu sebelumnya…… Coba saja kita ke Pemilu sebelum ini, ada data ganda gimana bisa tahu dengan cepat? Padahal sebelumnya banyak data ganda yang tidak terlacak, sekarang tinggal duduk manis di depan komputer…Data di sort..muncul deh data yg diinginkan….Kayaknya Para elite politik cuma nyari-nyari kesalahan saja….coba KPU diberi kontribusi yang baik untuk kesempurnaannya…
Kekacauan DPT itu diakibatkan oleh hal sbb:
1. Belum tertibnya administrsi kependudukan dan masih banyak orang yang memiliki banyak KTP termasuk Prabowo yang memiliki 5 KTP dan 1 KTP Yordania
2. Tidak pedulianya masyarakat
3. DPT diungkap karena Mega Prabowo kalah. coba kalau menang ga bakalan di permasalahkan.
4. Masalah DPT sudah dapat sulusi dengan menggunakan KTP. lha kalau KTP aja ga punya bagaimana menuntut hak memilih ?
5. Sudah cukup…… capai mikirin hal tersebut.