Golkar Butuh Pemimpin Seperti Akbar
Saved under Opini
Tags: Akbar Tandjung, Ketua Umum Golkar, partai golkar

Akbar Tandjung
Kekalahan Partai Golkar di Pileg 9 April lalu mulai menggoyahkan posisi Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum partai politik tertua itu. Hasil sementara Pilpres juga tampaknya disoroti sebagai bukti kegagalan JK dalam memimpin.
“Golkar butuh sosok pemimpin seperti Akbar Tandjung. Tapi permasalahannya, apa sosok seperti dia masih tersedia saat ini?” ungkap Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Kamarruzaman kepada okezone, Kamis (9/7/2009).
Karena itu, Golkar harus lebih fokus mencari calon pemimpin yang memiliki leadership dari kalangan politikus, bukan lagi dari kalangan pengusaha.
Jika kembali dikuasai elite yang berlatarbelakang pengusaha, lanjut dia, Golkar dikhawatirkan akan mengalami kegagalan lagi seperti saat kepemimpinan JK.
“Saya melihat domain mereka (Aburizal Bakrie, Surya Paloh, dan Agung Laksono) kan pengusaha juga seperti JK,” tandasnya.
Sumber : Lamtiur Kristin Natalia Malau - Okezone
18 / 07, akan di umumkan hasil pemilihan umum, Sekarang melalui survei sudah mengidikasihkan kemenangan adalah nomor urut 2. Bagi orang yang mencintai demokrasi, hal itu wajar” dan akan menerimahnya. Cuma sayang 1000 sayang, kalau masih ada elit politik dari partai tertentu, yang merasa sakit hati menerimah kekalahan, lalu di lemparkan kesalahan tersebut, pada capres
dan atau cawapres. Seperti yang di katakan oknum elit politik dari partai Golkar, pak Akbar Tanjung, {lebih cepat di ganti ketua umum Golkar lebih baik}, memang itu benar, Tapi dalam skala politik sekarang ini, kata2 itu belum waktunya mampir ke telinga orang2,” nanti kita di anggap belum bisa menerimah kekalahan. Pak Akbar jangan lupa” bahwa Golkar pernah berkuasa
dari tahun 68, sampai 98 = 30 tahun, atau 32 tahun, dari tahun 66. Nampak dari kata2 pak Akbar di atas, sepertinya pak Akbar rasa jengkel atas kekalahan ini, yang sebenarnya itu tidak perlu terjadi.
Perlu kita ketahui, pak Moh. Jusuf kalla, menjadi ketua umum partai Golkar, adalah terpilih karena dipilih oleh elit politik partai itu sendiri.
ke 2, keputusan partai Golkar untuk mencalonkan Pak Moh. Jusuf kalla sebagai capres, saat itu sudah final”maka di calonkanlah beliau dari partai tersebut sebagai presiden. Jadi jawabannya, adalah : jikalau kesebelasan PSSI bertanding dengan kesebelasan BRAZIL, lalu dimenangkan oleh BRAZIL, maka yang salah itu bukan gawang atau penyerang,” maka yang salah adalah oknum dalam partai Golkar itu sendiri yang tidak bisa bekerja sama,” bahkan” mungkin ada saja orang di dalam Golkar itu sendiri, menghianati kawan se partai. Tahun 99, partai tersebut, menghianati ketua pembina Golkar” B.J Habibi, dengan memberikan suara mereka, kepada tidak menerimah pertanggung jawaban presiden, saat itu B.J. Habibi. Saya hanya menduga, jangan2 yang membuat Golkar tidak bisa bekerja sama dengan kawan2 karna pak Akbar. “” Sebap baru saja usai pemilihan president, pak Akbar langsung berkoar seperti ada 1 kesalahan yang di buat, dan di sembunyikan. Seperti seseorang naik kendaraan
umum disaat hujan, semua tutup kaca jendela. Lalu ada yang kentut. Setelah sampai tujuan, semua penumpang sudah bayar. Lalu kondektur bilang,”siapa yang belum bayar, dia yang kentut. Lalu seorang penumpang bilang eee saya sudah bayar. Mungkinkah di dalam partai Golkar permainan seperti ini? sebap ini pernah terjadi tahun 99.
memang benar profile yang mengagumkan, tenang, bijak dan pintar
Saya muak melihat tingkah laku petinggi Golkar. Mereka kurang dewasa berpolitik dan haus kekuasaan. Semuanya masih terbelenggu paradigma lama.. Jaman sudah berubah Bung, kita tidak lagi di jaman Orba. Lebih2 ketika JK gagal lalu semua kesalahan ditimpakan ke JK. Kekalahan JK dalam Pilpres tsb BUKAN krn gagalnya kepemimpinannya, BUKAN PULA karena mesin partai tidak jalan. Pilpres sekarang adalah PEMILIHAN LANGSUNG oleh rakyat. Bukan jaman Orba lagi dimana presiden dipilih oleh anggota MPR. Dalam Pilpres langsung, rakyat bebas memilih siapa calonnya. Tidak ada lagi partai disitu meskipun memang awalnya ada parpol yg mengusungnya. Berapa banyak sih anggota partai yg terdaftar dibanding seluruh rakyat? 60% perolehan suara SBY-B itu bukan berasal dari suara kader Demokrat dan Koalisi-nya saja (dari Koalisinya saja banyak yg membangkang, i.e.: Ngabalin, Drajat, dll), tapi dari rakyat yang bisa dari anggota partai manapun maupun rakyat biasa yg cinta SBY.
Kekalahan JK lebih disebabkan karena saat ini SBY memang sangat4x populer. Bbrp wkt yll orang pernah mengatakan dipasangkan dengan sandal jepitpun SBY tetap akan menang. Ini bukan utk mengagungkan SBY tp hanya ungkapan yg menggambarkan begitu kuatnya SBY saat ini untuk dilawan oleh even putra/ putri terbaik Indonesia lainnya. Apa kalo Sultan, Akbar, Agung, Surya yang maju lalu akan bisa mengalahkan SBY? Saya ragukan itu.
JADI sangat TIDAK BIJAKSANA wacana yg dikembangkan utk menggusur JK. Beliau adalah negarawan sejati, rendah hati dan santun, meskipun sering me-letup2 tapi tetap dalam tataran yang elegan. Banyak jasa beliau. SBY-pun mengakuinya.
Adalah elite2 Golkar yang haus kekuasaan yang men-dorong2 JK maju jadi Capres karena takut kehilangan kekuasaan sebab SBY memilih cawapres lain. Untung2an-lah jika JK menang mereka masih tetap di lingkaran kekuasaan. Kalo saya amati setelah Pileg, JK sebetulnya juga tidak ada niat untuk jadi Capres. Beliau masih ingin tetap jadi wapres. Hanya karena sesuatu hal SBY ingin memilih cawapres yang lain. Kita hormati ini.
Coba amati tahun 2004 setelah SBY-JK menang. JK yang bukan apa2 sebelumnya lalu di-dorong2 jadi Ketum Golkar. Yg ndorong2 lalu kecipratan jabatan. Kalo JK ga lagi di lingkaran kekuasaan, habislah jabatan2 mreka. Lalu dipanas2ilah JK spy maju Capres.
JK orangnya juga santun. Coba perhatikan waktu debat Capres. Kalo mau mengritik SBY, JK selalu bilang dulu maaf pak SBY. Saya yakin dalam hati kecilnya JK menyesal harus mengritik. Tapi memang cara itu yg harus dilakukan utk melawan SBY yang tingkat elektabilitas SAAT INI sungguh sangat-sangat tinggi. Kalo tidak, lalu apa yang bisa dijual? Perhatikan pula telepon pribadi JK ke SBY saat mengucapkan selamat. JK hormat sekali thd SBY. Ia memang santun. Yang salah adalah, JK tampil pada situasi yang sedang tidak menguntungkan dirinya atau siapapun pemimpin nasional saat ini yang bersaing dengan SBY.
Lalu setelah hasil QC mengindikasikan hasil akhir pemenang Pilpres adalah SBY-B, buru2 elite Golkar mengatakan Golkar tidak siap beroposisi dan meng-endus2 supaya bisa berkoalisi dengan Demokrat. Maksudnya apa? Tentu karena Elite Golkar tertentu ingin bisa masuk ke lingkaran kekuasaan, sukur2 dipilih jadi Menteri. Sudahlah Bung, pengabdian itu bisa dimana saja, tidak harus di pemerintahan.
OLEH KARENA ITU, STOP wacana penggusuran JK. Biarkan beliau menyelesaikan tugasnya sampai akhir jabatan kecuali beliau sendiri yang menyatakan akan mengundurkan diri… Bravo rakyat, bersatulah Indonesia…
MENURUT SAYA JANGAN JADIKAN PEMIMPIN GULKAR YANG TIDAK PUNYA KHARISMA KALAU INGIN GOLKAR MENANG
SEPERTI DEMOKRAT : SUSILO BAMBANG YUDOYONO
PNI : BUNG KARNO
GOLKAR : SUHARTO
APALAGI JANGAN SAMPAI :
- ABURIZAL BAKRI
- SURYA PALOH
- AGUNG LAKSONO
MEREKA TIDAK POPULER DAN KARISMATIK, CARILAH WAJAH BARU YANG MEMPUNYAI KARISMATIK, BARU GOLKAR AKAN MAJU.
AKBAR TANJUNG SEBENARNYA POLITKUS YANG BAGUS, TAPI INTERN GOLKAR TIDAK MENGERTI, KARENA HAUS KEKUASAAN, SEKARANG GOLKAR HARUS BERBENAH DIRI, KARENA KALAH DILEGESLATIF, PILPRES, SAYANG AKBAR TANJUNG DIKESAMPINGKAN, BELIAU BELUM TERLALU TUA, KALAU BISA SBY GUNAKAN DALAM KABINETNYA SEBAGAI MENHANKAM, ATAU MENKOLPOLKAM. SAYANG KALAU TIDAK DIPAKAI TOKOH SEPERTI BELIAU
menurut saya sih….. pak muladi yg cocok, ingat waktu rakernas partai kebo di bln jan….smua nama2 org2 top golkar di borong ( broker nya si kapten haddock hehehe…..)tuk dijadikan cawapres, termasuk bang akbar n org2 top tsb pd ge-er-ran ketika namanya masuk bursa cawapres.n tidak ada yg menolak ketika namanya masuk bursa cawapres kebo…… ada usaha tuk memecah koalisi golkar-demokrat kyknya ,n berhasil…tapi org2 top tsb nga sadar kalo mreka cuma di jadikan public lips service saja. ingat komentar bang akbar waktu itu ? org2 partai kebo tsb mang bermaksud menjegal sby saja, dgn perhitungan demokrat akan kewalahan menghadapi parlementary treshold, sbb partai besar pendukungnya sdh pecah kongsi…padahal khan saat itu, golkar adalah partai pemerintah, n partai kebo adalah oposisi… negara mana di dunia yg partai pemerintah n partai oposisi nya bersatu tuk menghadapi pemilu yg akan dilangsungkan pd saat pemerintahan sedang berjalan..? pdhal saat itu sby-jk lom ada masalah. kesalahan utama jk adalah tidak bisa membedakan mana yg benar / mana yg salah…..politik beda dgn bisnis lg. kalo pak muladi dari awal mang dah tegas n punya pendirian org nya, tapi kalo partai dah menentukan arah, mo nga mo ngikut jg lg dia. kesalahan ambruknya suara golkar pd pilpres tidak pd jk, tapi kesalahan kolektif elite partai golkar., …mnurut d2 lho