Muncul Wacana Demokrat Dipimpin Militer

Partai Demokrat
Tiga calon Ketua Umum Partai Demokrat yang beredar saat ini dinilai belum merepresentasikan konstituen sebenarnya. Ketiga calon itu yakni Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie dinilai belum mewakili kubu militer yang juga banyak di tubuh Demokrat.
“Perlu ada wacana militer-sipil di tubuh Demokrat,” kata pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito, kepada VIVAnews. Tiga calon yang ada, kata ahli sosiologi politik itu, tidak ada yang merupakan representasi militer.
“Yang diperlukan Partai Demokrat saat ini adalah kombinasi kemampuan jaringan dan strong leadership yang dapat mengamankan transisi menuju partai modern sehingga tidak terus-terusan bergantung pada figur SBY. Kualifikasi Andi maupun Anas, jika hanya beroperasi di aras politik pencitraan, belum mencapai tahap tersebut,” katanya.
Partai Demokrat perlu figur yang berpengalaman memimpin organisasi besar, sehingga memiliki kemampuan untuk mengawal konsolidasi partai pada saat pemerintahan SBY periode kedua berakhir tahun 2014. Karena itu, menjelang Kongres Partai Demokrat yang akan berlangsung di Bandung, pertengahan Mei 2010, kader-kader Partai Demokrat harus lebih aktif menjaring munculnya calon alternatif di luar Andi dan Anas.
Selain Andi dan Anas, perlu dipertimbangkan nama-nama seperti Djoko Suyanto, yang kini menjabat sebagai Menkopolhukam, atau Djoko Santoso, yang masih menjabat Panglima TNI. Dua figur mantan militer dan militer aktif ini dinilai bisa mewarnai bursa kepemimpinan karena memiliki karakter yang sesuai untuk basis pemilih dan konstituen Partai Demokrat. Meski demikian, Djoko Santoso harus menanggalkan status militer aktifnya jika kelak diberi mandat oleh Kongres.
“Memang, keduanya bukanlah pengurus DPP Partai Demokrat. Tapi, mereka memiliki sejarah kedekatan yang panjang dengan SBY. Tokoh-tokoh itu mungkin telah mendapatkan transfer of knowledge yang cukup mengenai Partai Demokrat,” ujar Djito.
Menurut Djito, keterlibatan militer dalam Demokrat merupakan fakta tak terbantahkan. Karena itu, daripada berada di belakang layar, lebih baik bila muncul langsung memimpin.
Sumber : Arfi Bambani Amri• VIVAnews