“Mega Kartu Truf Sekaligus Kartu Mati PDIP”
Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menilai pencalonan Megawati Soekarnoputri kembali sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebuah dilema. Di satu sisi, partai tetap kuat namun di sisi lain, kekalahan dalam Pemilu berikutnya berpeluang besar terjadi.
“(Megawati) kartu truf sekaligus kartu mati,” kata Burhan diwawancara VIVAnews melalui telepon, Kamis 1 April 2010. Kartu truf, karena Megawati menjamin PDIP tetap solid.
Megawati adalah satu-satunya figur yang bisa memersatukan berbagai fraksi dan kepentingan yang bertarung di PDIP. Kalau PDIP dipimpin selain Mega, PDIP bisa terancam tercabik-cabik oleh perpecahan. “Ini membuat kader di bawah memaksa Mega untuk maju lagi sebagai Ketua Umum,” ujar peneliti senior Lembaga Survei Indonesia itu.
Namun keinginan tetap solid ini membuat PDIP harus mengorbankan kepentingan jangka panjang. Regenerasi kepemimpinan terhambat. “Ini kartu mati. Seharusnya ada pemahaman di dua Pemilu terakhir, PDIP kalah dua kali. Kekalahan salah satunya memunculkan indikasi menurunnya pamor Mega,” kata Burhan.
PDIP sendiri menyadari ini, sehingga muncul wacana dibuat posisi baru: Wakil Ketua Umum. Menurut Burhan, posisi Wakil Ketua Umum ini bisa menjadi jembatan regenerasi.
Namun posisi itu tak menjawab kebutuhan menarik massa swing voters yang berjumlah 75 persen dari pemilih. Megawati adalah kartu mati untuk swing voters, apalagi jika tidak disokong dengan kampanye PDIP yang baik. Mega dan PDIP setidaknya hanya akan mempertahankan massa loyal mereka yang berada di kisaran 8 persen pemilih.
“Hukum” itu bisa patah jika ada suatu keadaan luar biasa. Misalnya, pemerintah yang berkuasa membuat kebijakan yang tidak populer atau berada dalam suatu patahan politik yang merugikan penguasa. “Hukumnya, siapa yang beroposisi akan mendapatkan keuntungan,” kata Burhan. Dan PDIP dalam hal ini adalah yang beroposisi.
Sumber : Arfi Bambani Amri• VIVAnews