Isu PAN Pecah : PAN Bantah Isu Mundur Soetrisno Bachir

Soetrisno Bachir
Namun isu Soetrisno Bachir dizalimi itu memang ada.
Soetrisno Bachir dikabarkan akan mengundurkan diri dari kursi Ketua Umum Partai Amanat Nasional. Menanggapi kabar itu, Dewan Pengurus Pusat langsung buru-buru membantah.
“Nggak benar itu. Tiga jam yang lalu saya baru bertemu dengan Ketua Umum (Soetrisno Bachir). Tidak ada tanda-tanda beliau akan mundur dari jabatannya di DPP PAN,” kata Wakil Sekjen DPP PAN Ahmad Riski Sadig kepada VIVAnews, Rabu (6/5) sekitar pukul 22.45 WIB.
DPP PAN menurut Riski belum mengetahui ada pernyataan resmi mengenai pengunduran Soetrisno Bachir dari Ketua Umum. Namun isu yang beredar di internal partai mengenai Soetrisno yang seperti dizalimi itu memang ada.
“Mungkin Mas Tris (sapaan Soetrsino) berbicara atau mengobrol dengan teman dekatnya tentang capek, mau istirahat, dan lain sebagainya. Lalu dia karena simpati kemudian memandang bahwa teman dekatnya (Tris) telah dizalimi, dikhianati, dan lain sebagainya,” kata Riski.
Jadi, menurut Riski isu yang berkembang itu hanya merupakan ungkapan perasaan seorang kepada teman dekatnya. Yang kemudian, isu itu berkembang sendiri di lingkungan internal.
Pernyataan resminya kepada partai tidak pernah ada. Dalam rapat-rapat dengan pengurus juga tidak pernah keluar pernyataan soal rancana mundur dari jabatannya itu.
Apakah mungkin ungkapan perasaan kepada teman dekatnya itu akibat dari diajukannya Hatta Rajasa sebagai cawapres PAN? “Tidak tahu juga. Saya rasa tidak begitu,” ujar Riski.
Seperti diketahui, Keretakan di dalam tubuh PAN sudah terdeteksi sejak digelarnya pertemuan Yogyakarta di kediaman Ketua Majelis Pertimbangan Partai, Amien Rais. Saat itu, Amien mengumpulkan 27 ketua Dewan Pimpinan Wilayah dari 33 provinsi.
Hasil pertemuan itu, PAN mengusung Soetrisno Bachir dan Menteri Sekretaris Negara, Hatta Rajasa, sebagai calon wakil presiden untuk Susilo Bambang Yudhoyono.
Konflik internal semakin meruncing ketika PAN menggelar Rapat Kerja Nasional di Yogyakarta. Hasil Rapat Kerja Nasional itu memutuskan PAN resmi berkoalisi dengan Demokrat. Keputusan lain, hanya Hatta Rajasa yang didaulat menjadi kandidat calon wakil presiden dari PAN.
Sumber : Ismoko Widjaya, Mohammad Adam VIVAnews