Target KPU Trenggalek Meleset

Target Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) pada 2 Juni lalu meleset.

Pemantauan dari sejumlah kecamatan menyebutkan bahwa angka partisipasi politik masyarakat dalam Pilkada Trenggalek sekitar 40 hingga 60 persen.

Bahkan tim pemenangan pasangan calon memperkirakan angka golongan putih (golput), sebutan untuk golongan masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya, mencapai 40 persen. “Menurut pengamatan kami, angka golongan putih (golput) dalam
pilkada tahun ini mencapai 40 persen,” kata Mahdi Haris selaku Sekretaris Tim Pemenangan Cabup-Cawabup
Mahsun Ismail-Joko Irianto, di Trenggalek, Jumat pagi.

Padahal, sehari sebelum pencoblosan KPU setempat telah menargetkan tingkat partisipasi politik masyarakat mencapai 70 hingga 80 persen.

Target yang dipatok KPU dilatarbelakangi beberapa faktor, di antaranya tiga pasangan calon merupakan putra daerah dan memiliki kedekatan emosional dan kultural dengan masyarakat karena di antara mereka sudah pernah menjabat Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek.

Namun, ternyata faktor-faktor tersebut belum mampu mendongkrak animo masyarakat untuk mendatangi tempat pemungutan suara (TPS). “Jika memang angka golput sudah sampai 40 persen, maka menjadi rekor tersendiri di Kabupaten Trenggalek,” kata Haris.

Pada Pilkada 2005, Pilgub 2008, dan Pemilu 2009, angka golput di daerah penghasil keripik tempe itu tidak setinggi Pilkada 2010. Oleh sebab itu, wajar jika anggota KPU Jatim, Arif Budiman, menaruh harapan tinggi terhadap tingkat partisipasi masyaraka dalam Pilkada Trenggalek.

“Saya yakin, tingkat partisipasi politik di Kabupaten Trenggalek bisa di atas 70 persen,” kata Arif usai mendengarkan paparan dari KPU Kabupaten Trenggalek, Selasa (1/6) lalu.

Ketua
KPU Kabupaten Trenggalek, Patna Sunu, mengakui bahwa tingkat partisipasi politik masyarakat di
daerahnya pada Pilkada 2010 turun drastis dibandingkan Pilkada 2005, Pilgub 2008, dan Pemilu 2009.

“Selain faktor kejenuhan masyarakat di ajang pemilihan, kondisi alam yang kebetulan memasuki musim
hujan turut menjadi penyebab rendahnya tingkat partisipasi politik
masyarakat,” katanya.

Namun, dia tak sependapat dengan asumsi bahwa masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pilkada 2 Juni lalu dianggap golput.

Ia beralasan, banyak di antara warga yang telah dimasukkan dalam daftar
pemilih tetap (DPT) berhalangan hadir karena berbagai faktor, di antaranya meninggal dunia, sakit, dan bepergian ke luar
kota.
“Yang seperti ini tidak bisa dikatakan golput,” kata Sunu.

Apalagi sampai saat ini data ketidakhadiran pemilih ke TPS-TPS belum seluruhnya masuk rekapitulasi KPU.
“Saat ini data sementara yang masuk ke kami baru sebatas jumlah
suara sah pada masing-masing pasangan calon,” katanya.

Berdasarkan hasil rekapitulasi sementara yang dihitung KPU dengan menggunakan
komunikasi telepon dan pesan singkat (sms), jumlah suara sah di 1.413 TPS se-Kabupaten Trenggalek mencapai 329.059 suara.

Jumlah itu terdistribusi ke tiga pasangan calon, yakni Soeharto-Samsuri (HarSam) sebanyak 71.881 suara atau
sekitar 21,84 persen, Mahsun Ismail-Joko Irianto (MAHIR) sebanyak 74.584 suara (22,67 persen), dan Mulyadi-Kholiq (MK) sebanyak 182.594 suara (55,49 persen).

Jumlah pemilih dalam Pilkada Trenggalek sesuai DPT mencapai 573.197 orang. Jika jumlah suara sah berdasar rekapitulasi sementara KPU di atas
tidak berubah, berarti pemilih dalam Pilkada Trenggalek yang tidak
menggunakan hak suara adalah sebanyak 244.138 suara atau sekitar 42,59
persen.

Sumber : antarajatim.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone