Kak Seto, Kampanye Parpol Dan Eksploitasi Anak

Kak Seto, Kampanye Parpol Dan Eksploitasi Anak

Kak Seto, Kampanye Parpol Dan Eksploitasi Anak

Kak Seto, Kampanye Parpol Dan Eksploitasi Anak

Untuk ketigakalinya Seto Mulyadi –akrab di panggil Kak Seto–, tampil ke depan dan menyampaikan keprihatinannya terhadap segala bentuk eksploitasi terhadap anak-anak dalam penyelenggaraan setiap tahapan pemilu.

Lima tahun lalu, tepatnya tahun 2004, Kak Seto bergerak dan bertemu dengan pengurus elit parpol. Anak Klaten itu menolak kegiatan kampanye parpol yang melibatkan anak-anak.

Namun usaha Kak Seto tampaknya seperti sia-sia. Hingga kini kampanye parpol yang melbatkan anak-anak sering terlihat, baik di pilkada maupun pemilu. Termasuk iklan politik yang ditayangkan di televisi.

Upayanya yang kedua adalah ketika tanggal 16 Januari 2009, dalam sebuah forum ilmiah, ia melontarkan kritikannya terhadap parpol yang memanfaatkan anak dalam kampanye dan iklan kampanye.

Kak Seto menyatakan, pelaku eksploitasi anak dalam Pemilu sebenarnya dapat dikenai sanksi karena telah melanggar UU Pemilu Pasal 82 Ayat (2j) dengan sanksi pidana kurungan 3 sampai 9 bulan. “Kalau bukan kita semua, siapa lagi yang melindungi anak-anak,” tegas pria berkacamata itu.

Menurutnya, penerapan pendidikan politik pada anak-anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya menyanyi, menggambar atau mewarnai gambar parpol. Cara itu dapat menjadi hal positif bagi anak-anak terhadap Pemilu dari pada membiarkan anak dijemur matahari dan menghirup udara kotor.

“Kami akan terus berjuang dan meminta KPU untuk melakukan penegakan hukum terhadap parpol yang melanggar. Melibatkan anak dalam kegiatan parpol sangat beresiko terhadap keselamatan mereka,” kata Kak Seto.

Menurut Kak Seto, pelanggar juga bisa dikenai pasal 15 UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. “Anak berhak memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan kegiatan politik. Pelanggaran terhadap UU itu bisa dikenai pidana penjara dan denda Rp100 juta,” tegasnya.

Upaya Kak Seto yang ketiga terjadi Kamis (5/2), ketika rombongan Komnas Perlindungan anak yang dipimpinnya bertemu dan berdiskusi dengan KPU di Gedung KPU, Jakarta.

Sekjen Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait menyatakan, rangkaian kampanye dan iklan politik di media massa sangat membahayakan anak.

“Perbuatan parpol yang melibatkan anak-anak dalam kampanye sangat tidak bertanggung jawab dan seharusnya bisa dikenakan pidana pemilu,” katanya.

KPU Kesulitan

Namun perjuangan kak Seto dan Komnas Anak tampaknya sangat terjal. KPU bahkan sangat sulit mengambil keputusan, termasuk kemungkinan penerapan hukumnya apabila persoalan itu dibawa ke pengadilan.

Meski mengakui anak-anak sangat rawan menjadi korban eksploitasi parpol dalam kampanye pemilu, namun menurut Ketua KPU Abdul Hafiz, UU No 10/2008 tentang Pemilu tidak menyebutkan secara tegas aturan itu.

“UU Pemilu hanya menyebutkan, pelaksana kampanye dilarang mengikutsertakan warga negara yang belum memiliki hak pilih dalam kegiatan kampanye,” kata nya.

Menurutnya, hal itu menjadi sulit karena UU tidak mengatur secara eksplisit larangan menyertakan anak-anak di dalam kegiatan kempanye.

“Menjadi sulit penegakan hukumnya apabila ada indikasi atau tuduhan parpol tertentu mengeksploitasi anak dalam kampanye,” kata Ketua KPU. Hafiz juga mengatakan, dalam Peraturan KPU No.19 tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye, juga tidak menyebut larangan tersebut.

Menurutnya, akan menjadi pertanyaan, apakah keikutsertaan anak-anak dalam kampanye itu sukarela atau diajak orang tuanya? “Bukankah orang tua anak bukan pelaksana kampanye? Aturannya memang belum jelas,” katanya.

Anggota KPU Sri Nuryanti berpendapat sama. Menurutnya, ada perbedaan mendasar dalam pelibatan anak dalam kampanye antara mengikutsertakan dan ikut serta. “Kami masih membutuhkan penyamaan persepsi. Jelas harus dibedakan, apakah anak itu sebagai subjek atau objek,” kata Sri Nuryanti.

Psikolog Anak

Sepak terjang Kak Seto membela anak sudah lama, namun sebelumnya ia lebih banyak dikenal sebagai psikolog anak. Anak Klaten, Jawa Tengah, yang lahir pada 28 Agustus 1951 itu kemudian sering tampil menjadi pembawa acara program anak dan pemerhati masalah anak-anak.

Hingga kemudian pria yang tampak santun ini dipercaya untuk menjadi Ketua Komnas Perlindungan Anak.

Pria penerima Men’s Obsession Award 2006 itu kemudian menjadi sasaran pengaduan bagi mereka yang menghadapi persoalan anak. Termasuk kasus ‘rebutan’ anak yang banyak dialami para selebritis yang mengalami perceraian. Misalnya saja Tamara Bleszynki, Zarima, dan Five V.

Kak Seto yang pernah pernah berduet dengan Henny Purwonegoro menjadi pembawa acara televisi program anak-anak itu sangat sering mengungkapkan keprihatinan kondisi anak di Indonesia. Terutama yang menjadi korban kekerasan.

Suami dari Deviana dan ayah bagi Eka Putri Duta Sari (18), Bimo Dwi Putra Utama (15), Shelomita Kartika Putri Maharani (10), dan Nindya Putri Catur Permatasari (8) itu memiliki saudara kembar bernama Kresno Mulyadi (Kak Kresno), juga seorang psikolog anak, dan punya seorang kaka, Maruf Mulyadi.

Langkah Kak Seto tidak hanya berhenti di ranah pemilu, karena ia juga tidak pernah berhenti berjuang untuk melindungi anak-anak dari ancaman lain, misalnya bahaya rokok dan tayangan film.

“Kami mendesak pemerintah segera membentuk regulasi larangan menyeluruh iklan, promosi, dan sponsor rokok sebagai bentuk nyata perlindungan anak dari bahaya rokok,” kata Seto Mulyadi akhir Januari lalu.

Karena itu, Kak Seto begitu gembiranya setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang Haram Merokok di Tempat Umum, Haram Merokok Bagi Wanita Hamil, dan Haram Merokok Bagi Anak.

Fatwa itu, kata Kak Seto, menunjukan pentingnya perlindungan anak-anak dari bahaya rokok, yakni bahaya bagi kesehatan, ancaman kematian (tobacco kills) dan ancaman pemiskinan

Hal sama ditegaskannya ketika mengetahui sebuah film nasional berjudul “Pintu Terlarang” mempertontonkan adegan kekerasan orang tua terhadap anak yang dapat berakibat buruk pada masa depan si anak. “Film tersebut cukup mendebarkan,” katanya.

“Tidak ada pihak lain yang dapat melindungi anak-anak kita dari bahaya kecuali kita semua,” kata Kak Seto.

3 Responses to Kak Seto, Kampanye Parpol Dan Eksploitasi Anak

  1. ryan March 5, 2009 at 8:56 pm

    hari ini berita pos kota anak anak jalanan 30 ribuan mengemis ke jalan.gimana mas….jangan tampil pada berita berita utama saja dong,seperti ponari dll.apa dengan ini kak seto bukan exploitasi anak dalam mendapat nama dari berita utama

  2. Satochid Sosrodiredjo March 6, 2009 at 12:05 pm

    Ajukan saja ke Panwaslu he he he, panwaslunya sendiri juga ngak tau atau masa bodoh. bagaimana ya seleksinya ada yang ngak ikur ujian juga lolos kok.

  3. eko susanto January 9, 2010 at 12:28 pm

    Kak, saya akan menulis buku berjudul Quantum Gamming, yang menjelaskan bahwa pentingnya guru memberikan game saat mengajar. Bisa/bersediakah kak seto memberikan komentar singkat pada buku saya tersebut. Oh ya, buku saya yang perdana berjudul 60 game untuk mengajar diberi komentar oleh kak bimo, master dongeng Indonesia. No Cp saya 081227277540

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone